ABNnews – Suasana duka menyelimuti seantero Iran. Ribuan warga memadati Lapangan Enghelab, Teheran, pada Minggu (1/3/2026) untuk melepas kepergian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Isak tangis pecah sesaat setelah pemerintah mengonfirmasi wafatnya sang tokoh akibat serangan gabungan AS-Israel.
Pantauan wartawan AFP, lautan massa yang didominasi pakaian hitam tampak memenuhi pusat ibu kota. Sambil mengibarkan bendera Iran dan membawa poster foto Khamenei, para pelayat meneriakkan slogan keras: “Matilah Amerika” dan “Matilah Israel”.
Masa Berkabung 40 Hari dan Libur Nasional
Televisi Pemerintah Iran secara resmi mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Tak hanya itu, pemerintah juga menetapkan tujuh hari sebagai libur nasional untuk memberikan penghormatan terakhir bagi pemimpin yang berkuasa sejak 1989 tersebut.
“Dengan kemartiran pemimpin tertinggi, jalan dan misinya tidak akan hilang atau dilupakan. Sebaliknya, akan dikejar dengan semangat yang lebih besar,” ujar presenter televisi pemerintah, dikutip dari AFP.
Aksi Pukul Dada hingga Jemaah Pingsan
Gelombang duka tidak hanya terjadi di Teheran. Di Isfahan, ribuan rakyat berkumpul di Lapangan Naqsh-e-Jahan. Sementara di Kota Yasuj, kantor berita Tasnim melaporkan adegan emosional di mana para pelayat memukul-mukul kepala dan dada mereka sebuah tradisi berkabung yang lazim di Iran.
Suasana lebih mencekam terasa di kompleks suci Masjid Imam Reza, Mashhad. Melansir Palestine Chronicle, para jemaah di sana berada dalam kondisi syok berat. Beberapa orang dilaporkan pingsan saat pengeras suara mengumumkan kabar “kemartiran” pria berusia 86 tahun tersebut.
Sisi Lain: Kontras Pendukung vs Anti-Pemerintah
Namun, di balik duka mendalam para pendukungnya, New York Times melaporkan adanya pemandangan kontras di sudut-sudut kota lainnya.
Saat massa pro-pemerintah duduk termenung di jalanan, kelompok anti-pemerintah justru dilaporkan turun ke jalan untuk bersorak-sorai merayakan kematian Khamenei.
Perayaan ini pun memicu perdebatan panas di media sosial. Sejumlah warganet Iran mengaku menyesakkan hati melihat adanya perpecahan reaksi di tengah kondisi negara yang sedang diguncang serangan udara.
“Suasana berubah menjadi sangat gelap dan menyesakkan bagi kami yang menghormatinya sebagai tokoh agama,” tulis salah satu laporan warga yang dikutip media internasional.













