banner 728x250

Gawat! Campak Lagi ‘Nge-gas’ di RI, Penularannya Ternyata Lebih Ngeri dari COVID-19

Ilustrasi. (Ist)

ABNnews – Kasus campak di Indonesia sedang mengalami kenaikan signifikan. Tak hanya di tanah air, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa penyakit menular ini juga tengah ‘nge-gas’ di berbagai belahan dunia.

Kekhawatiran semakin memuncak usai ditemukan dua warga negara Australia yang dinyatakan positif campak setelah melakukan perjalanan dari Indonesia. Hal ini menjadi sorotan tajam karena menandakan sirkulasi virus yang masih tinggi di masyarakat.

Vaksinasi Drop Jadi Biang Kerok

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, Prof Dr dr Anggraini Alam, SpA, menyebut merosotnya angka vaksinasi secara global menjadi pemicu utama ledakan kasus ini. Menurutnya, satu-satunya cara menghentikan campak adalah dengan cakupan vaksinasi yang tinggi dan merata.

“Penyebabnya secara global yaitu akibat menurunnya cakupan vaksinasi campak. Jadi cakupan vaksinasi campak harus tinggi terus, merata terus,” tegas Prof Anggi dikutip detik.com, Sabtu (28/2/2026).

Prof Anggi mengingatkan, tidak boleh ada ketimpangan vaksinasi baik di level RT/RW, kota, hingga provinsi. Targetnya mutlak: 95 persen warga harus memiliki kekebalan agar transmisi virus terputus.

Lebih Menular dari COVID-19

Senada dengan Prof Anggi, Ketua Umum PP IDAI dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA, meminta orang tua tidak menganggap remeh campak. Berdasarkan temuan di lapangan, mayoritas anak yang terjangkit campak adalah mereka yang sama sekali tidak mendapatkan imunisasi.

“Ini sebetulnya sebuah wake up call atau alarm yang seharusnya menyadarkan kita bahwa campak ini tidak bisa dianggap ringan,” kata dr Piprim.

Ia pun memberikan perbandingan yang cukup mengejutkan. Menurutnya, daya tular campak jauh lebih tinggi daripada COVID-19. Komplikasinya pun tak main-main jika tidak ditangani dengan benar.

“Campak komplikasinya ternyata bisa jadi radang paru, radang otak, bahkan bisa buta dan penularannya jauh lebih tinggi daripada COVID-19. Kita dengan COVID-19 saja heboh ya, tapi kenapa dengan campak masyarakat masih adem ayem,” pungkasnya.

IDAI kembali mengimbau para orang tua untuk segera melengkapi status imunisasi anak guna menghindari risiko komplikasi fatal yang bisa berujung pada cacat permanen hingga kematian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *