BSN Resmi Terbitkan SNI G2R Tetrapreneur: Standar UMKM Bergotong Royong Pertama di Dunia!

ABNnews – Badan Standarisasi Nasional (BSN) secara resmi menerbitkan Keputusan (SK) penetapan SNI 9445:2026 Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur – Bagian 1: Pedoman Mutu Ekosistem Wirausaha pada Senin (3/8/2026).

Terbitnya standar ini menjadikan SNI G2R Tetrapreneur sebagai kebijakan nasional pertama tentang inovasi pedoman mutu ekosistem gotong royong berwirausaha yang siap diimplementasikan secara luas di seluruh Indonesia.

Penerbitan SNI ini menjadi momentum krusial yang mengarahkan pengembangan wirausaha tidak sekadar mengejar keuntungan semata.

Lebih dari itu, standar ini membangun ekosistem asli Indonesia yang mewujudkan gotong royong dari hulu hingga hilir, mencakup inovasi akses pasar non-kompetisi, peningkatan kualitas pasar kompetisi, hingga kebijakan pasar bagi produk unggulan ikonik global.

Founder dan konseptor G2R Tetrapreneur, Rika Fatimah, menegaskan bahwa SNI 9445:2026 lahir dari kepeloporan praktik di Yogyakarta yang merambah ke skala nasional. Ia menyebutnya sebagai standar UMKM berbasis gotong royong pertama di dunia.

“Gotong Royong merupakan khazanah bangsa Indonesia sejak nenek moyang yang secara awam menjadi kekuatan pergerakan masyarakat luas khususnya pada aspek sosial dan budaya. Melalui berlakunya SNI G2R Tetrapreneur ini masyarakat dikuatkan implementasi dan praktik kesehariannya menjadi kewajaran bergotong royong dalam berwirausaha dan tidak semestinya sendiri-sendiri,” ujar Rika yang juga dosen senior FEB UGM Yogyakarta.

“Harapannya SNI ini dapat memberikan semangat kepastian bergerak dan bersatunya UMKM untuk membentuk kelembagaan bersama sehingga tercipta keseimbangan pasar yang berpihak untuk mayoritas pelaku UMKM,” tambahnya.

Rika menjelaskan, kebaruan dan keaslian SNI G2R Tetrapreneur ini memiliki bobot setara dengan sistem manajemen mutu ISO 9000. Perbedaannya, standar ini tidak hanya mengukur produk akhir (end product), melainkan mengatur para pelaku dan ekosistem wirausahanya.

“Universal dan mulianya norma (norms) dan nilai (value) dalam Ekonomi Pancasila yang berke-Tuhan-an hingga Berkeadilan merupakan suatu prinsip dan praktik global yang sewajarnya menjadi panutan bagian dunia,” tegas Rika yang juga menjabat Wakil Ketua Komtek 03–13.

Guna memastikan penerapannya berjalan proaktif, penyusunan Peta Jalan (Roadmap) akan segera digarap bersama oleh Komtek 03-13, Kementerian Transmigrasi RI, BSN, dan para pemangku kepentingan.

Senada dengan Rika, Ketua Komtek 03-13 yang juga Direktur Perencanaan Perwujudan Kawasan Transmigrasi Kementrans RI, Dr. Bambang Widyatmiko, menekankan bahwa terbitnya SNI ini bukan berarti pelaku UMKM langsung dibebani kewajiban sertifikasi baru.

“Perlu kami jelaskan hal itu belum dapat disimpulkan demikian. Ini penting agar masyarakat tidak memperoleh kesan bahwa setelah SNI diterbitkan otomatis akan dibentuk lembaga sertifikasi atau bahwa setiap pelaku G2RT nantinya wajib memperoleh sertifikat,” tegas Bambang.

Ia menjabarkan bahwa pascapenetapan SNI, fokus utama pemerintah adalah menguji dan membangun tata kelola implementasi dengan prinsip Function Before Institution, Pilot Before Scale, dan Evidence Before Decision.

“Artinya, fungsi dan sistemnya dibangun terlebih dahulu, kemudian diuji melalui implementasi dan pilot. Setelah tersedia bukti mengenai kebutuhan pasar, kredibilitas, risiko, biaya-manfaat, dan kesiapan kelembagaan, barulah dapat dinilai apakah diperlukan penilaian kesesuaian formal,” terangnya.

Bambang menambahkan bahwa orientasi saat ini bukan segera mendirikan lembaga sertifikasi, melainkan memastikan standar tersebut benar-benar hidup dan memberi manfaat langsung bagi pelaku usaha.

“Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa konsep yang baik secara normatif benar-benar dapat bekerja dalam praktik. Karena itulah pascapenetapan SNI, pekerjaan kita belum selesai. Justru sekarang masuk tahap penting: implementasi, assessment, monitoring, pembelajaran, dan peningkatan berkelanjutan,” imbau Bambang.

Penetapan SNI 9445:2026 ini diharapkan menjadi pintu masuk kegiatan nasional yang memadukan sosialisasi, penyampaian roadmap, hingga showcase praktik G2RT.

Dengan demikian, ekosistem kewirausahaan yang berakar pada nilai-nilai luhur Indonesia ini mampu tumbuh mandiri serta membuktikan relevansinya di kancah internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *