Dunia  

Dunia Tanpa Etika Bakal Rusak, Din Syamsuddin Ajak Tokoh Agama Dunia Mulai Bergerak

Din Syamsuddin dalam acara International Council Meeting of Religions for Peace (Sidang Dewan Internasional dari Agama-agama untuk Perdamaian) yang digelar di Mauritius, Rabu (24/6/2026).

ABNnews – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, memperingatkan bahwa tatanan dunia tanpa fondasi etika yang kuat lambat laun akan hancur dan rusak.

Berkaca dari situasi global saat ini, ia mengajak seluruh tokoh lintas agama di dunia untuk segera bergerak melakukan aksi nyata menyelamatkan peradaban manusia.

Langkah taktis ini disuarakan Din Syamsuddin dalam presentasinya pada International Council Meeting of Religions for Peace (Sidang Dewan Internasional dari Agama-agama untuk Perdamaian) yang digelar di Mauritius, Rabu (24/6/2026).

Sidang internasional yang berlangsung di sebuah hotel pesisir pantai negara kepulauan Samudera Hindia itu dibuka langsung oleh Presiden Mauritius Dharam Gokhool, serta dihadiri Sekjen Religions for Peace International Dr. Francis Kuria.

Selain Din Syamsuddin, delegasi dari Indonesia juga menghadirkan mantan Rektor UIN Jakarta, Prof. Dr. Amany Lubis, yang tergabung dalam Jejaring Wanita (Women’s Network) organisasi tersebut.

Din Syamsuddin, yang saat ini mengemban amanah sebagai salah seorang Presiden Kehormatan dari Religions for Peace International, tampil membedah materi pada Sesi Tematik bertajuk Partnership for Inclusive Global Governance (Kemitraan untuk Pemerintahan Global Inklusif).

Di hadapan sekitar 200 tokoh agama mancanegara yang memadati ruangan, Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta ini menyoroti potret buram tata kelola global saat ini yang dinilainya compang-camping akibat kerusakan akumulatif.

“Kondisi dunia yang rusak, amburadul, dan tak pasti yang menampilkan kerusakan akumulatif dewasa ini perlu diselamatkan dengan peradaban baru. Untuk itu, umat lintas agama harus menampilkan agama sebagai penyelesai masalah (problem solver), bukan bagian dari masalah (part of the problem), apalagi pencipta masalah (problem maker),” cetus Din Syamsuddin.

Guna melahirkan sebuah tatanan yang mulia, Din menilai sudah saatnya dunia mengadopsi prinsip baru yang berbasis moralitas universal. Paradigma ini diusulkan untuk menggeser sistem peradaban lama yang dianggap terlampau condong pada arah sekularistik dan liberalistik.

Sejalan dengan tema sidang, Forging Pathways for Shared Sacred Worldview (membuka jalan bagi pandangan dunia kesucian bersama), Din menyodorkan cetak biru berupa Etika Global Bersama (Shared Global Ethics).

Ia menggarisbawahi bahwa meski setiap keyakinan memiliki batas teologis yang berbeda, ranah etika dan moral tetap menjadi titik temu (common ground) bagi semua agama.

Sejumlah nilai fundamental yang didesak untuk segera diarusutamakan demi kesejahteraan bersama meliputi: Cinta dan kasih sayang, Toleransi tingkat tinggi, Solidaritas kemanusiaan serta Keadilan sosial


Lebih jauh, Din mewanti-wanti bahwa para pemuka agama tidak akan mampu memikul misi besar ini sendirian. Diperlukan sinergi yang kokoh dengan para pemangku kebijakan strategis di pemerintahan, khususnya para politisi dan pemimpin negara.

“Kaum agamawan perlu mengajak kalangan politisi dan negarawan untuk menyadari bahwa dunia tanpa etika akan rusak. Perwujudan kolaborasi antara agamawan dan negarawan serta kalangan-kalangan lain merupakan penjelmaan dari pemerintahan dunia yang inklusif,” jelasnya.

Din menutup orasinya dengan sebuah penegasan bahwa genderang gerakan perubahan ini harus ditabuh saat ini juga demi masa depan generasi emas dunia.

“Kolaborasi semacam ini mendesak. Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita yang memulai siapa lagi,” pungkas Din Syamsuddin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *