banner 728x250

Nekat Lewat Jalur Ilegal, Pendaki 18 Tahun Terperosok ke Jurang Gunung Semeru Sedalam Jembatan Suramadu

Tim SAR gabungan mengevakuasi pendaki yang terjatuh ke jurang sedalam 375 meter di lereng barat Gunung Semeru, Lumajang. (Foto: Ist)

ABNnews – Seorang pendaki remaja berinisial C (18) dilaporkan terperosok ke dalam jurang sedalam 375 meter atau hampir setara dengan panjang bentang utama Jembatan Suramadu di lereng barat Gunung Semeru.

Korban nekat melakukan pendakian melalui jalur ilegal atau bukan rute resmi, sehingga menyulitkan proses evakuasi yang berjalan dramatis dan penuh risiko hingga Jumat (5/6/2026).

Operasi penyelamatan berskala besar ini sejatinya telah digulirkan sejak Kamis malam (4/6/2026) tak lama setelah posisi korban terdeteksi di dasar jurang.

Mengingat interior medan yang sangat ekstrem dengan kemiringan tebing mencapai 80 derajat, sejumlah personel SAR terlatih harus diterjunkan langsung menggunakan peralatan khusus demi menjangkau korban.

Saking ekstremnya lokasi kejadian, petugas di lapangan harus sepenuhnya bergantung pada sistem tali yang ditambatkan pada batuan tebing dan vegetasi sekitar.

Bahkan dalam beberapa kesempatan, anggota tim SAR terpaksa beristirahat sambil tetap tergantung di dinding tebing akibat tidak adanya pijakan kaki yang memadai.

Tingkat kesulitan evakuasi kian bertambah parah lantaran titik jatuhnya korban berada di sisi barat Gunung Semeru, wilayah yang sama sekali bukan merupakan jalur pendakian resmi.

Walhasil, area tersebut masih dipenuhi oleh vegetasi liar yang sangat rapat serta barisan tebing curam yang menghambat pergerakan personel sekaligus distribusi alat penyelamatan.

Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, membeberkan bahwa tim di lapangan mengandalkan metode slope rescue, sebuah teknik penyelamatan khusus di medan miring yang menuntut akurasi tinggi dalam operasi SAR pegunungan.

“Pendaki tersebut diposisikan dengan keadaan terlentang di flexible atau rolling stretcher, kemudian diamankan dengan sistem tali,” ujar Nanang Sigit, Jumat (5/6/2026).

Melalui metode ini, tubuh korban diletakkan di atas tandu fleksibel khusus lalu ditarik secara merayap dan bertahap dari dasar jurang menuju titik kumpul aman di atas tebing.

Dari titik aman tersebut, korban baru akan ditandu secara manual untuk diturunkan menuju posko utama. Langkah ini dinilai paling aman guna meminimalkan fatalitas cedera, baik bagi korban maupun para petugas yang bertaruh nyawa.

Selama proses penarikan yang memakan waktu berjam-jam, tim SAR wajib ekstra hati-hati. Gesekan tali dengan sudut batu yang tajam di sepanjang jalur tebing menjadi momok menakutkan yang terus diwaspadai agar tali pengaman tidak terputus.

Guna mengantisipasi kondisi tubuh korban memburuk akibat serangan suhu dingin pegunungan, tim SAR membungkus rapat tubuh remaja tersebut dengan pelindung khusus.

Petugas juga disiagakan mendampingi di sisi kanan dan kiri tandu selama proses penarikan untuk memantau kondisi kesehatan sekaligus menyuplai makanan dan minuman.

“Proses evakuasi dilakukan dengan menarik survivor dengan pengawalan di sisi kanan dan kirinya. Proses penarikan dilakukan secara bergantian dan memerlukan kewaspadaan mengingat medan yang terjal dan curam,” kata Nanang.

Selain itu, kaki korban juga langsung dipasang bidai sejak awal untuk membatasi pergerakan tulang dan mencegah cedera semakin parah.

Tak cukup sampai di situ, alam rupanya ikut menguji nyali tim penyelamat. Operasi kemanusiaan ini sempat terkendala oleh aktivitas vulkanis Gunung Semeru yang masih bergejolak.

Semburan abu vulkanis hasil erupsi beberapa kali bergerak ke arah barat dan menambah tingkat kesulitan tim yang sedang mengevakuasi di lereng gunung.

Kendati demikian, misi penyelamatan tetap digas dengan memperhatikan keselamatan seluruh personel. Nanang memproyeksikan jika cuaca di lokasi tetap mendukung dan seluruh personel berada dalam kondisi prima, korban diperkirakan tiba di posko evakuasi pada Jumat malam.

“Proses evakuasi hingga tiba di Posko diperkirakan selesai pada Jumat (5/6/2026) malam dengan melihat kondisi fisik survivor maupun tim SAR gabungan dan juga cuaca di lokasi. Kalau lancar estimasi 8-10 jam perjalanan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *