ABNnews — Pelatih Como, Cesc Fabregas legowo usai anak asuhnya kalah secara dramatis 2-3 dari Inter Milan di babak semifinal Coppa Italia 2025/2026. Ia mengatakan perbedaan kualitas antara Como dan Inter masih ada, namun jaraknya kini semakin tipis.
“Kami tahu Inter adalah tim yang sudah matang, mereka bermain bersama selama enam atau tujuh tahun. Itu membuat mereka lebih siap untuk bersaing di level tertinggi,” ujar Fabregas.
Ia juga menyinggung pengalaman Inter yang musim lalu berhasil mencapai final Liga Champions, sebagai bukti bahwa lawan mereka adalah tim dengan mental juara.
“Apakah kami sudah setara dengan Inter? Belum. Tapi kami semakin mendekat. Perbedaan terbesar ada di efektivitas kami di kedua kotak penalti,” lanjutnya.
Alih-alih kecewa, mantan gelandang Arsenal tersebut justru mengaku bangga dengan performa anak asuhnya. Ia menilai timnya telah menunjukkan respons positif setelah sebelumnya kalah dari Sassuolo di kompetisi domestik.
“Saya sudah memperkirakan para pemain akan tampil maksimal, dan mereka melakukannya. Kami memang masih punya kekurangan, tapi itu bagian dari proses,” jelasnya.
Menurut Fabregas, kekalahan seperti ini tidak seharusnya membuat tim melupakan seluruh progres yang telah dicapai sepanjang musim.
“Ada kalanya Anda kalah meski bermain bagus. Itu tidak berarti kami harus meragukan perjalanan kami sejauh ini,” kata Fabregas.
Fabregas juga mengakui bahwa faktor pengalaman menjadi salah satu pembeda utama. Dalam dua pertemuan melawan Inter bulan ini, Como sempat mengendalikan permainan, namun gagal mempertahankan keunggulan hingga akhir laga.
“Kami menghadapi tim elite, jadi mereka pantas mendapat kredit. Selain itu, kami juga kehilangan beberapa pemain penting, dan ada yang belum sepenuhnya fit,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa Como saat ini termasuk salah satu tim di Eropa yang banyak memberi kesempatan kepada pemain muda, khususnya di bawah usia 23 tahun.
“Ini bukan hal mudah. Saya pernah menjadi kapten di usia 21 tahun di bawah Arsene Wenger, yang juga mengandalkan pemain muda. Sekarang sebagai pelatih, saya paham betapa menantangnya hal itu,” kata Fabregas.
Pada laga yang berlangsung di Stadion San Siro, Rabu (22/04) dini hari lalu itu, Como sebenarnya sempat berada di atas angin setelah unggul dua gol lebih dulu melalui Martin Baturina pada menit ke-32 dan Lucas Da Cunha, menit ke-48′.
Namun, keunggulan tersebut sirna setelah Inter bangkit lewat dua gol Hakan Calhanoglu (69′ dan 86′) serta satu gol tambahan dari Petar Sucic di menit ke-89′. Hasil itu memastikan Nerazzurri unggul 3-2 secara agregat.
Hasil ini terasa pahit bagi Como, mengingat mereka hampir mencatat sejarah dengan melaju ke final Coppa Italia untuk pertama kalinya.
Klub tersebut terakhir kali mencapai semifinal pada 1986, dan perjalanan mereka dalam beberapa tahun terakhir terbilang luar biasa, bangkit dari kebangkrutan pada 2017 hingga sempat berkutat di Serie C pada 2011.













