ABNnews — Menjelang Operasi Ketupat 2026, jaringan pelabuhan penyeberangan di Lampung semakin dipersiapkan matang untuk menghadapi lonjakan arus mudik dan balik Lebaran.
Sejumlah pelabuhan utama beserta penyangga, termasuk Pelabuhan WIKA Beton, dioptimalkan agar pergerakan kendaraan dan penumpang berlangsung lebih aman serta lancar.
Peninjauan lapangan dilakukan di Pelabuhan Bakauheni sebagai simpul utama penyeberangan Sumatera-Jawa, didukung pelabuhan penunjang seperti BBJ Muara Pilu, Pelabuhan WIKA Beton, dan pelabuhan baru Sumur Makmur Abadi (SMA).
Langkah ini sejalan dengan kebijakan memperkuat sinergi antarinstansi dalam pengelolaan arus mudik dan balik Lebaran 2026.
Pelabuhan-pelabuhan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai titik naik-turun penumpang, melainkan juga bagian dari pola distribusi lalu lintas yang lebih merata, guna mengurangi beban Bakauheni yang sebelumnya melayani ratusan ribu penumpang serta puluhan ribu kendaraan pada periode puncak.
Secara keseluruhan, empat dermaga disiagakan penuh untuk angkutan Lebaran meliputi Pelabuhan ASDP, Pelabuhan PT Bakau Jaya, Pelabuhan WIKA Beton sebagai pendukung, serta Pelabuhan SMA sebagai pelabuhan baru untuk kondisi darurat.
Konfigurasi dinamis ini memungkinkan pengalihan arus sesuai tingkat kepadatan, sehingga antrean di satu titik tidak menumpuk terlalu lama.
Pelabuhan WIKA Beton menempati posisi strategis sebagai penyangga di sekitar Bakauheni, berjarak sekitar tiga kilometer dari pelabuhan utama dengan akses jalan tersendiri.
Pelabuhan ini dimanfaatkan mengurai kepadatan puncak mudik dan balik, termasuk saat Lebaran 2025 yang membantu mengurangi antrean kendaraan di Bakauheni.
Dengan layanan utama kendaraan berat dan logistik, pelabuhan ini berhasil memisahkan pergerakan truk dari arus kendaraan pribadi, terbukti berkontribusi pada kelancaran lalu lintas kawasan sekaligus mempercepat waktu tunggu penyeberangan bagi pemudik.
Selain kesiapan pelabuhan, pengelolaan jalan menuju dan keluar pelabuhan menjadi perhatian utama. Kementerian PUPR bersama pemangku kepentingan menargetkan kondisi jalan tol dan non-tol ke Bakauheni serta pelabuhan penyangga tetap mantap saat puncak arus, disertai skema pengendalian seperti sistem delay di rest area dan buffer zone.
Operasi Ketupat 2026 juga mengatur jalur arteri, titik rawan macet, hingga kawasan wisata dan tempat ibadah, menjadikan pengamanan mudik sebagai sistem kesatuan dari jalan raya hingga penyeberangan antarpulau.
Sinergi antara kepolisian, Kementerian Perhubungan, Kementerian PUPR, operator pelabuhan, serta pengelola seperti Pelabuhan WIKA Beton diharapkan membuat penyelenggaraan mudik berjalan tertib.
***













