ABNnews – Industri perbankan nasional sebenarnya sedang dalam kondisi “tajir” alias punya modal dan likuiditas yang sangat kuat. Namun, ada paradoks yang terjadi: perbankan punya banyak duit untuk dipinjamkan, tapi dunia usaha justru masih ogah-ogahan menarik kredit.
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, blak-blakan menyebut tantangan utama saat ini bukan lagi soal pasokan dana (supply), melainkan sepinya permintaan (demand) dari masyarakat dan pelaku usaha.
“Fasilitas kredit yang disetujui bank serta likuiditas sebenarnya masih memadai, namun realisasi penarikan tertahan. Ini mencerminkan sikap kehati-hatian (wait and see),” ujar Hery dalam acara Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Data Ngeri: Kredit Konsumsi & UMKM Merosot
Hery memaparkan data Bank Indonesia yang menunjukkan penurunan tajam pada permintaan kredit baru di hampir semua segmen:
* Kredit Konsumsi: Anjlok dari 62,9% menjadi tinggal 13,4%.
* Segmen UMKM: Turun dari 78,4% ke level 58,8%.
* Undisbursed Loan: Meningkat rata-rata jadi 10,22% (Kredit sudah disetujui tapi belum dicairkan nasabah).
Fundamental Bank Masih “Strong”
Meski penyaluran kredit melambat, secara fundamental perbankan RI tetap kokoh. Hal ini terlihat dari:
* Pertumbuhan DPK: Menguat hingga 11,4% (YoY).
* LDR (Likuiditas): Terjaga aman di kisaran 84%.
* CAR (Permodalan): Berada di level 26%, jauh di atas batas minimum regulator.
Sektor Penopang Ekonomi Lagi Lesu
Menurut Hery, seretnya kredit ini berkaitan langsung dengan perlambatan di tiga sektor raksasa penyumbang PDB: manufaktur, perdagangan, dan pertanian.
Sektor manufaktur yang menyumbang hampir 20% PDB sangat menentukan investasi. Sementara itu, perdagangan lesu karena daya beli masyarakat belum pulih total. Pertanian pun setali tiga uang, yang dampaknya langsung terasa ke sektor mikro dan UMKM.
“Artinya, moderasi kredit saat ini bukan semata faktor likuiditas. Walaupun sudah diguyur pemerintah Rp 200 triliun sebagai likuiditas tambahan, kondisi ini sangat dipengaruhi struktur sektoral ekonomi kita,” jelasnya.
Optimisme di Program Strategis Nasional
Ke depan, BRI dan jajaran bank Himbara lainnya tetap optimis. Hery meyakini program strategis pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis, Program 3 Juta Rumah, hingga Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi mesin baru pendorong kredit.
“Di sinilah perbankan berperan membiayai ekosistem pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan,” pungkas Hery.













