ABNnews – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meluapkan kegeraman terkait alotnya pengembangan Lapangan Gas Abadi Blok Masela di Maluku. Bahlil menyentil Inpex Masela Ltd yang sudah memegang hak pengelolaan blok tersebut selama 26 tahun, namun progresnya dinilai jalan di tempat.
Saking geramnya, Bahlil mengaku telah memanggil manajemen Inpex secara khusus. Ia memberikan peringatan keras agar proyek raksasa tersebut segera digeber ke tahap konstruksi dan produksi. Jika tidak, Bahlil mengancam akan mengambil tindakan tegas berupa pencabutan izin.
“Blok Masela itu saya masih SD, 26 tahun dia sudah pegang itu blok. 26 tahun Bos! Saya panggil Inpex, you datang sini. Datang, waktu saya bilang sama dia, kalau you nggak mau, satu, kedua, kalau tidak saya cabut. Nggak ada urusan,” tegas Bahlil dalam acara Kuliah Umum di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Bahlil menekankan bahwa sikap kerasnya ini adalah bentuk kedaulatan negara. Ia menegaskan tidak boleh ada pihak manapun, termasuk investor besar, yang bisa mendikte pemerintah.
“Kita harus equal treatment. Jadi pengusaha sama negara itu sama-sama butuhkan,” cetusnya.
Gertakan Bahlil tampaknya mulai membuahkan hasil. Saat ini, proyek Blok Masela dilaporkan sudah mulai memasuki tahapan konstruksi. Meski pihak Inpex sempat menargetkan produksi baru dimulai pada 2030, Bahlil langsung menolak dan meminta jadwal tersebut dimajukan.
“Apa yang terjadi dengan cara itu sekarang Inpex sudah mulai tender. Tahun ini sudah mulai tender. Dan produksinya, InsyaAllah dia bikin 2030. Saya bilang, nggak, 2030 sudah pilpres, kau bikin 2029. Aku nggak tahu, aku bilang. Kau bikin 2029,” terang Bahlil.
Berdasarkan laporan dari SKK Migas, nilai investasi proyek strategis nasional ini tidak main-main, yakni mencapai US$ 18 miliar atau setara lebih dari Rp 280 triliun (asumsi kurs Rp 15.600/US$).
“Kemarin sudah dibangun konstruksinya 2025. Sekarang sudah mulai tender. Kemarin SKK Migas sudah laporan ke saya total investasinya US$ 18 billion,” pungkasnya.













