banner 728x250

Lampaui PDB Nasional, Pertumbuhan Industri Baja RI Tembus 15,7 Persen

Ilustrasi (Foto: Krakatau Steel)

ABNnews – Industri baja nasional sukses menunjukkan taringnya di tengah dinamika perdagangan global. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan sektor logam mencatatkan prestasi impresif dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) menembus angka 15,71 persen pada tahun 2025.

Angka ini tercatat jauh di atas rata-rata pertumbuhan sektor manufaktur dan PDB nasional. Menko Airlangga menegaskan, pemerintah berkomitmen penuh memperkuat daya saing baja lokal melalui hilirisasi hingga perlindungan pasar domestik dari gempuran produk luar.

“Kita patut bangga, di tahun 2025 sektor industri logam kita mencatatkan prestasi yang impresif. Pertumbuhan PDB sektor ini menembus angka 15,71 persen,” ujar Airlangga saat memberikan sambutan melalui video dalam Munas ke-5 The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) di Jakarta, dikutip Jumat (13/2/2026).

Efek Program 3 Juta Rumah

Moncernya kinerja baja nasional didorong oleh kenaikan konsumsi domestik yang melonjak menjadi 19,3 juta ton pada 2025.

Permintaan ini mengalir deras dari sektor konstruksi yang sedang digenjot pemerintah, termasuk melalui Program Pembangunan 3 Juta Rumah.

Selain konstruksi, sektor manufaktur dan otomotif juga menjadi motor penggerak utama. Dengan kapasitas produksi nasional di angka 16–17 juta ton per tahun, industri baja RI masih memiliki ruang lebar untuk menekan angka impor.

Ekspor Gacor, Australia Jadi Tujuan Utama

Hilirisasi yang konsisten mulai membuahkan hasil nyata pada nilai ekspor. Produk fero-nikel menjadi primadona dengan nilai ekspor mencapai USD 14,94 miliar sepanjang Januari–November 2025.

Menariknya, pasar ekspor Indonesia kini semakin terdiversifikasi:
* Australia: Jadi tujuan utama produk besi dan baja senilai USD 1,6 miliar.

* Singapura & Inggris: Menyusul sebagai pasar potensial baru.

* RRT: Tetap jadi mitra utama dengan nilai ekspor tembus lebih dari USD 16 miliar.


Investasi Naik 2 Kali Lipat & Isu ‘Green Steel’

Dari sisi investasi, sektor ini mencatatkan kenaikan signifikan. Investasi asing melonjak dua kali lipat dari USD 8,05 miliar (2021) menjadi USD 16,37 miliar pada 2025, dengan kontribusi terbesar dari Hong Kong, Singapura, dan Tiongkok.

Memasuki tahun 2026, pemerintah mulai fokus pada transformasi menuju Green Steel. Penggunaan teknologi Electric Arc Furnace (EAF) didorong karena mampu memangkas emisi hingga 85%, sekaligus mengantisipasi aturan karbon global (Carbon Border Adjustment Mechanism).

Benteng Lawan Baja Impor Murah

Guna menjaga pasar lokal dari praktik perdagangan tidak adil dan fenomena kelebihan pasokan dunia, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah perlindungan:
1. Bea Masuk Anti-Dumping: Diterapkan pada sejumlah produk baja tertentu.

2. Pengetatan Lartas: Pengawasan impor melalui Persetujuan Impor (PI) untuk 440 pos tarif.

3. SNI Wajib: Pemberlakuan 23 standar wajib untuk menjamin kualitas produk di pasar.


Airlangga mengajak seluruh stakeholder untuk bersinergi dalam “Indonesia Incorporated”.

“Kita jadikan Indonesia bukan hanya sebagai pasar, tetapi sebagai basis produksi baja terkuat di Asia Tenggara,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *