ABNnews – Kabar gembira buat para pencari kerja! Pemerintah memproyeksikan agenda ekonomi hijau (green economy) di Indonesia bakal menciptakan hingga 4,4 juta lapangan kerja baru hingga tahun 2029 mendatang.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa transformasi menuju ekonomi rendah karbon ini menjadi prioritas nasional. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto melalui “Asta Cita” yang fokus pada ketahanan energi dan transformasi hijau.
“Agenda ekonomi hijau ini diproyeksikan mampu menciptakan hingga 4,4 juta lapangan kerja baru hingga tahun 2029, yang didukung melalui program pemagangan dan pengembangan keterampilan berkelanjutan,” tutur Airlangga dalam acara China Conference: Southeast Asia 2026 di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Ekonomi RI ‘Ciamik’: Tumbuh 5,11%
Di depan para investor dan mitra kawasan, Airlangga pamer kinerja makroekonomi Indonesia yang tetap tangguh di tengah ketidakpastian geopolitik. Sepanjang tahun 2025, ekonomi RI sukses tumbuh 5,11%.
Bahkan, kesejahteraan masyarakat ikut terkerek naik. Berikut rincian indikator positif ekonomi RI:
* Angka Kemiskinan: Turun menjadi 8,5 persen.
* IPM (Indeks Pembangunan Manusia): Naik ke level 75,9.
* Lapangan Kerja 2025: Berhasil menyerap 1,4 juta tenaga kerja.
* Surplus Dagang: Rekor! Bertahan selama 68 bulan berturut-turut.
Anggaran ‘Raksasa’ Rp 402,4 Triliun buat Energi
Bukan sekadar omon-omon, pemerintah mengalokasikan anggaran fantastis sebesar Rp 402,4 triliun di tahun 2026 khusus untuk ketahanan energi. Dana jumbo ini bakal dialirkan ke berbagai proyek strategis, mulai dari hilirisasi industri baterai kendaraan listrik hingga pembangunan green supergrid.
Tak hanya itu, Indonesia juga tancap gas mengembangkan bahan bakar nabati B40 hingga B50 serta teknologi penangkapan karbon (CCS/CCUS).
Kemitraan Mesra dengan Hong Kong & China
Airlangga juga menyoroti peran penting Hong Kong yang telah mengucurkan investasi sebesar USD 10 miliar ke tanah air. Menurutnya, sinergi teknologi dengan mitra kawasan seperti China adalah mesin penggerak utama ekonomi Asia Tenggara.
“Perjalanan menuju masa depan net-zero bukanlah jalan yang dapat ditempuh sendiri. Sinergi kepemimpinan Indonesia dan teknologi mitra kawasan merupakan mesin penggerak ketahanan ekonomi,” pungkasnya.













