ABNnews – Imam Al-Ghazali, was-was adalah bisikan setan (waswasah). Tujuannya menyesatkan manusia dengan menciptakan keraguan berlebihan, terutama dalam ibadah, mengelabuhi kehati-hatian ekstrem menjadi kesempurnaan palsu yang mengganggu kekhusyukan.
Tentu saja kita harus waspada dari tipuan iblis yang bisa merusak keimanan jika dibiarkan berkembang.
Hati itu seperti menara yang berdiri dengan beberapa pintu masuk yang terbuka mana yang bisa dilalui dengan selamat dan segera menemukan yang dicari atau yang dibutuhkan.
Hati juga dicontohkan sebagai titik fokus yang menjadi sasaran anak panah dari segala arah agar tak meleset. Setan mengajak memilih dunia dan membuang akhirat. Permulaan penguasaan setan adalah mengikuti keinginan nafsu syahwat dan hawa nafsu.
Keraguan adalah ajakan setan untuk berbuat keburukan dan kemaksiatan, seringkali terselubung dalam bentuk kehati-hatian berlebihan dan tidak perlu membuat hati tidak khusyuk seperti meragukan wudhu atau takbiratul ihram bahkan meragukan keberadaan Tuhan.
Imam Al-Ghazali menganggap orang yang terus-menerus was-was sebagai orang yang tertipu setan, karena ia lebih fokus pada kesempurnaan lahiriah daripada kekhusyukan batin, padahal kekhusyukan itu wajib.
Menurut Imam Al-Ghazali was-was itu harus dilawan dengan tegas dan sadar bahwa itu adalah godaan setan, bukan dari diri sendiri atau Allah. Setan mengajak keburukan, kemaksiatan, dan menimbulkan keraguan serta ketakutan yang tidak berdasar.
Cara menghilangkan perasaan was-was :
1. Meyakini dengan ibadah yang dilaksanakan sehingga Allah SWT akan menghilangkan keraguan itu.
2. Memohon perlindungan Allah dengan mengucapkan taawudz, memperbanyak membaca sholawat, dan dzikir.
3. Fokus dalam beribadah jangan dengan hati dan pikiran yang kosong agar setan tak mengusik hati manusia.
4. Memperdalam ilmu agama agar beribadah sesuai tuntunan agama.Wallohu a’lambishshawab/H Ali Akbar Soleman Batubara













