banner 728x250

Gak Tergantung Musim Lagi! Petani Buah Naga Banyuwangi Pakai Lampu Biar Panen Terus, Kok Bisa?

Foto dok Antara

ABNnews – Banyuwangi sudah lama tersohor dengan denyut kehidupan pertaniannya yang kuat. Di tengah lahan subur Bumi Blambangan, para petani buah naga kini punya cara jitu untuk meningkatkan hasil panen. Melalui Kelompok Petani Buah Naga (Panaba), mereka sukses berinovasi hingga produknya naik kelas berkat dukungan program Klasterku Hidupku BRI.

Kelompok Panaba dipimpin oleh Edy, sosok yang jeli melihat peluang emas budidaya buah naga sejak 2016. Namun, jalan menuju sukses tak selalu mulus. Awalnya, para petani sempat pusing tujuh keliling akibat serangan penyakit dan harga yang anjlok saat produksi melimpah (over supply).

“Makanya kami membentuk Klaster Panaba untuk mengatasi masalah tersebut bersama teman-teman petani,” ujar Edy.

Lawan Tengkulak, Jaga Harga Tetap Stabil

Tak hanya urusan teknis tanam, Klaster Panaba juga pasang badan melindungi petani dari permainan harga pedagang nakal. Edy menjelaskan, klaster memiliki pedoman harga agar petani tetap untung.

“Pedagang yang ikut klaster mengikuti pedoman harga. Misalnya, jika di pasar Rp 10.000, mereka membeli dari petani minimal Rp 7.000. Pedagang yang tidak ikut klaster biasanya memanfaatkan situasi dengan membeli lebih murah,” tegasnya.

Inovasi Lampu: Rahasia Panen di Luar Musim

Terobosan paling revolusioner dari Klaster Panaba adalah penggunaan teknologi lampu. Inovasi yang dikembangkan sejak 2013 ini memungkinkan pohon buah naga tetap berproduksi meski bukan musimnya. Tentu saja, teknologi ini butuh modal yang tidak sedikit.

Di sinilah peran BRI melalui program Klasterku Hidupku masuk sejak 2017. Pendampingan yang diberikan membuat petani lebih berani mengekspansi usaha mereka.

“Dengan pendampingan dari BRI, petani jadi lebih berani mengembangkan usaha. Apalagi kalau mau pakai teknologi, itu kan butuh modal besar. Kalau sendiri, berat,” kata Edy.

Selain urusan teknologi, BRI mempermudah akses pinjaman modal tanpa agunan yang ribet. “Kalau petani sudah punya tanaman buah naga, proses pinjamannya tidak ribet,” tambahnya.

Target UMKM Naik Kelas

Secara terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengungkapkan bahwa program Klasterku Hidupku memang didesain untuk mendorong UMKM naik kelas. BRI membangun ekosistem agar terjadi kolaborasi dan peningkatan skala produksi.

“Semoga cerita inspiratif dari Klaster Usaha Panaba di Banyuwangi ini dapat direplikasi oleh pelaku usaha di daerah lainnya,” harap Akhmad.

Hingga akhir tahun 2025, BRI tercatat telah membina 42.682 Klaster Usaha di seluruh Indonesia. Tidak hanya modal, BRI juga telah menggelar 3.001 kegiatan pemberdayaan yang mencakup pelatihan hingga dukungan sarana prasarana produksi untuk mendongkrak ekonomi daerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *