banner 728x250

Jeritan Hati Ibu Bocah SD yang Gantung Diri: ‘Saya Pikir Dia Pergi Sekolah’

Bocah berinisial YBS (10), siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan tewas gantung diri. (Liputan6.com/ Ola Keda)

ABNnews – Isak tangis pecah di rumah duka YBR (10), bocah kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT, yang nekat mengakhiri hidupnya. Sang ibu kandung, Maria Goreti Te’a (47), menceritakan momen-momen terakhir yang tak pernah ia duga akan menjadi pertemuan terakhir dengan putra bungsunya.

Maria mengisahkan, pada pagi hari sebelum tragedi itu terjadi, YBR sebenarnya sempat mengeluh pusing dan enggan berangkat ke sekolah. Namun, karena rasa sayang dan khawatir anaknya tertinggal pelajaran, Maria tetap membujuk YBR untuk sekolah dan bahkan mengantarkannya langsung menggunakan ojek.

Siapa sangka, siang harinya kabar petir menyambar datang menghantam keluarga. Maria mendapati kenyataan pahit bahwa anaknya ditemukan tak bernyawa.

“Saya kaget ada kabar dari tetangga, saya pikir dia pergi sekolah,” ungkap Maria dengan suara parau saat ditemui di rumah duka, Selasa (3/2/2026).

Hidup Prihatin: Makan Ubi dan Jual Kayu Bakar

YBR merupakan anak bungsu dari lima bersaudara yang memiliki garis hidup cukup pilu. Sejak usia 1 tahun 7 bulan, ia sudah harus tinggal terpisah dari ibunya dan diasuh oleh sang nenek di sebuah pondok bambu sederhana.

Latar belakang keluarganya pun penuh perjuangan. Ayahnya diketahui telah merantau ke Kalimantan sejak 11–12 tahun lalu dan tidak pernah kembali hingga saat ini. Di usia yang masih sangat belia, YBR bukan sekadar siswa sekolah, ia juga menjadi tulang punggung kecil bagi neneknya.

Sehari-hari, ia kerap membantu menjual sayur, ubi, hingga kayu bakar demi menyambung hidup. Untuk urusan perut pun, mereka hanya bisa pasrah pada hasil kebun. Pisang dan ubi menjadi menu yang paling sering mendarat di piring mereka.

Ironi: Luput dari Pantauan Bansos Pemerintah

Berdasarkan pantauan lapangan dan keterangan warga sekitar, keluarga YBR memang hidup dalam tekanan ekonomi yang sangat berat sejak ditinggalkan sang ayah. Hal ini memicu masalah berantai: pengasuhan anak yang terpisah-pisah, minimnya pendampingan emosional, hingga akses pendidikan yang pas-pasan.

Namun, fakta yang paling menyakitkan adalah keluarga ini ternyata luput dari berbagai skema bantuan pemerintah. Meski kondisinya sangat memprihatinkan, tidak ada catatan bantuan rumah layak huni, bantuan pendidikan, maupun bantuan sosial (bansos) lainnya yang menyentuh keluarga ini.

Kini, nasi telah menjadi bubur. Tragedi yang menimpa YBR seolah menjadi alarm keras mengenai masih adanya warga di pelosok negeri yang berjuang sendirian di bawah garis kemiskinan tanpa tersentuh tangan negara.

Catatan Redaksi: Informasi ini tidak ditujukan untuk menginspirasi tindakan serupa. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal menunjukkan gejala depresi atau memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup, segera hubungi layanan kesehatan mental, psikolog, atau tenaga profesional di fasilitas kesehatan terdekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *