ABNnews – Pemerintah meminta semua pihak mengubah cara pandang terhadap dekarbonisasi industri. Bukannya menjadi beban biaya, transisi energi justru diklaim bakal menjadi ladang ekonomi baru yang sangat menggiurkan bagi Indonesia.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, membeberkan bahwa peta jalan menuju energi bersih memiliki potensi menarik investasi hingga Rp 1.682,4 triliun. Angka fantastis ini selaras dengan visi Asta Cita pemerintah untuk mencapai swasembada energi sekaligus mendorong ekonomi hijau.
“Pengembangan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan pasokan energi bersih, tetapi juga memberikan penambahan ekonomi yang signifikan. Mendorong investasi sekitar Rp 1.680 triliun lebih,” ungkap Yuliot dalam SUAR Roundtable Discussion di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Banjir Lowongan Kerja ‘Hijau’
Tak cuma soal angka investasi, proyek raksasa ini diprediksi bakal menjadi mesin pencetak lapangan kerja baru. Yuliot memperkirakan ada potensi penyerapan hingga 760.000 tenaga kerja atau green jobs.
Lowongan kerja ini tersebar mulai dari tahap pra-konstruksi, masa pembangunan, hingga operasional dan pemeliharaan komponen pendukung energi terbarukan. Hal ini membuktikan dekarbonisasi bisa menjadi motor baru bagi industrialisasi nasional.
“Selain itu, ini akan mengurangi emisi sekitar 120 sampai dengan 130 juta ton karbondioksida,” tambahnya.
Jurus Pembiayaan Inovatif
Meski potensinya “gila-gilaan”, Yuliot mengakui tantangan terberat ada di urusan modal. Pemerintah sadar betul tidak bisa hanya mengandalkan kantong APBN. Oleh karena itu, ia mendorong skema pembiayaan inovatif seperti blended finance agar proyek hijau lebih dilirik perbankan (bankable).
“Bagaimana kita membuat pembiayaan hijau dengan skema blended finance yang bisa lebih menguntungkan baik bagi pelaku usaha maupun dari sektor finansial itu sendiri,” jelas Yuliot.
Butuh Kolaborasi, Bukan Kerja Sendiri
Wamen ESDM menekankan bahwa transisi energi adalah kerja tim. Kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan swasta adalah harga mati untuk menciptakan ekosistem investasi yang sehat dan minim risiko. Hal ini dilakukan demi menjaga daya saing bangsa di kancah global.
Menutup diskusi, Yuliot menanti masukan konkret dari para pelaku industri untuk merumuskan kebijakan jangka pendek hingga panjang. Targetnya jelas: ketahanan energi nasional kuat dan target penurunan emisi sebesar 129,5 juta ton CO2 tercapai.
“Jadi kami dari Kementerian ESDM melihat rekomendasi apa yang bisa kita rumuskan dalam kebijakan untuk bisa kita implementasikan,” pungkasnya.













