ABNnews – Industri baja nasional tancap gas! PT Tata Metal Lestari resmi melakukan groundbreaking fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 di Purwakarta, Jawa Barat. Proyek jumbo senilai total Rp 1,5 triliun ini menjadi bukti nyata penguatan kemandirian industri di era Presiden Prabowo Subianto.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, industri logam punya peran strategis sebagai “ibu” dari sektor turunan seperti otomotif hingga energi. Catatan Kemenperin pun gemilang: produksi baja nasional melonjak hampir 98,5% dalam lima tahun terakhir!
“Ini mencerminkan kapasitas industri baja nasional yang terus tumbuh dan semakin kompetitif,” ujar Agus Gumiwang dalam keterangannya, Senin (26/1/2026).
Canggih! Pertama di Asia Tenggara
Fasilitas baru ini bukan pabrik biasa. Menggandeng perusahaan teknologi asal Italia, Tenova, CGL 2 ini akan menjadi lini produksi pertama di Asia Tenggara yang menggunakan teknologi pelapisan zinc magnesium.
Hasilnya? Baja yang diproduksi diklaim punya umur penggunaan empat kali lebih lama dibanding baja biasa.
VP of Operations PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi, menyebut pembangunan ini adalah kunci agar Indonesia tidak ketergantungan impor. Saat ini, produk mereka bahkan sudah menembus pasar “elite” di 25 negara.
“Kami tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tapi juga sudah mengekspor ke pasar Amerika Serikat dan Eropa yang standar kualitasnya sangat tinggi,” ungkap Stephanus.
Serap 350 Orang Tenaga Kerja Baru
Kehadiran fasilitas di Purwakarta ini diprediksi bakal memproduksi 250 ribu ton baja lapis per tahun. Jika digabung dengan pabrik di Cikarang, total kapasitas perusahaan akan mencapai setengah juta ton per tahun.
Tak hanya soal angka produksi, proyek ini juga membawa berkah bagi ekonomi lokal dengan menciptakan sekitar 350 lapangan kerja baru.
“Ini merupakan bagian dari peta jalan kami untuk mencapai kapasitas 2,5 juta ton dalam 10 tahun ke depan, sekaligus menghadirkan produk Made in Indonesia berstandar global,” pungkas Stephanus.
Kemenperin pun optimis, langkah PT Tata Metal Lestari ini akan memperkuat ekosistem hulu ke hilir sekaligus mendukung target net-zero emission melalui penerapan prinsip industri hijau yang lebih efisien energi.













