ABNnews – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menebar optimisme di tengah ketidakpastian global yang menyelimuti dunia. Ia menegaskan ekonomi Indonesia tetap tangguh alias resilien, bahkan memiliki risiko resesi yang jauh lebih rendah dibandingkan negara adidaya.
“Di tengah ketidakpastian global, ekonomi Indonesia tetap resilien dengan tingkat risiko resesi relatif rendah dibandingkan dengan AS, China, dan Jepang,” ujar Airlangga saat memberikan keynote speech dalam forum IBC Business Outlook 2026, Kamis (15/1/2026).
Airlangga membeberkan bukti nyata ketangguhan tersebut. Selama tujuh tahun terakhir, Indonesia konsisten tumbuh di angka 5%. Per Desember 2025, inflasi juga terjaga jinak di level 2,92%.
Rapor Hijau: IHSG Cetak Rekor, Cadangan Devisa USD 156 Miliar
Ketangguhan ekonomi RI tak hanya isapan jempol. Sederet indikator menunjukkan tren positif:
* Pasar Modal: Indeks saham terus mencetak rekor baru.
* Manufaktur: PMI Manufaktur ekspansif di level 51,2.
* Kepercayaan Konsumen: Meroket ke angka 123,5.
* Cadangan Devisa: Solid di angka USD 156,1 miliar.
Sektor perbankan pun masih tancap gas dengan pertumbuhan kredit mendekati 8%. “Kondisi ini mencerminkan kepercayaan global terhadap stabilitas ekonomi kita,” tambahnya.
Siapkan ‘Amunisi’ Rp 110,7 Triliun Jaga Daya Beli
Menghadapi tahun 2026, pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi di angka 5,4%. Untuk mencapai target itu, instrumen APBN disiapkan sebagai tameng yang kredibel dengan defisit tetap di bawah 3%.
Tak main-main, pemerintah sudah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp 110,7 triliun. Dana raksasa ini dikucurkan khusus untuk menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan nasional sepanjang 2025-2026.
Program prioritas yang jadi fokus, mulai dari:
1. Ketahanan Pangan & Energi.
2. Pemberdayaan UMKM (target jutaan lapangan kerja baru).
3. Peningkatan SDM (Program magang fresh graduate & pelatihan tenaga kerja).
4. Digitalisasi (Perluasan QRIS Internasional).
Fokus Lindungi Industri Padat Karya
Di tengah dinamika perdagangan dunia, Airlangga memastikan pemerintah tidak tinggal diam melihat kondisi industri padat karya. Sektor tekstil, elektronik, dan manufaktur ekspor bakal diprioritaskan untuk melindungi jutaan tenaga kerja nasional.
Airlangga mengajak para pengusaha dan masyarakat untuk tetap menatap masa depan dengan kepala tegak.
“Menghadapi periode mendatang, kita harus optimistis, akan ada banyak berita baik. Bahkan IMF pun optimistis pada ekonomi Indonesia,” pungkasnya.













