banner 728x250

Kata Menkes Soal Pasien Superflu Meninggal Dunia di RS Hasan Sadikin Bandung

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. (Foto: istimewa)

ABNnews — Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin menyoroti kasus pasien superflu atau Influenza A H3N2 subclade K yang meninggal di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Menurut dia, pasien yang meninggal memiliki penyakit penyerta atau komorbid yang memperparah kondisi kesehatannya. “Yang di Bandung meninggal itu karena punya penyakit lain. Meninggalnya bukan karena flu,” kata Budi.

Ia menjelaskan, virus yang disebut sebagai super flu merupakan varian lama influenza, yakni H3N2, yang sudah beredar selama bertahun-tahun.

Virus ini berbeda dengan Covid-19 yang sempat menjadi pandemi karena merupakan virus baru sehingga sistem imun manusia belum siap menghadapinya.

“Kalau H3N2 ini sudah lama beredar. Asal badan kita sehat, seharusnya bisa diatasi oleh sistem imun kita sendiri,” ujar dia.

Menurut Budi, masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan dan menyamakan super flu dengan Covid-19. Ia menyebut tingkat fatalitas atau fatality rate H3N2 sangat rendah.

Meski demikian, virus ini memang memiliki tingkat penularan yang tinggi. “Fatality rate-nya itu rendah sekali. Yang tinggi adalah penularannya,” kata dia.

Lebih jauh Budi menjelaskan, secara alamiah virus akan bermutasi agar dapat bertahan hidup. Virus dengan tingkat kematian tinggi cenderung menyebar lebih lambat karena inangnya cepat meninggal.

Sebaliknya, virus yang menular cepat biasanya memiliki daya mematikan yang lebih lemah. “Virus itu juga ingin hidup. Kalau inangnya cepat wafat, dia juga tidak bisa hidup,” ujarnya.

Ia mencontohkan pengalaman pandemi Covid-19, ketika varian Omicron menyebar jauh lebih cepat dibandingkan Delta, namun memiliki tingkat keparahan yang lebih rendah.

Menurut dia, pola yang sama juga terjadi pada H3N2 dengan varian yang beredar saat ini. “Penyebarannya cepat, tapi sebenarnya lemah dari sisi fatality rate,” kata Budi.

Terkait kasus di Bandung, Budi mengibaratkan kondisi pasien seperti seseorang yang mengalami flu lalu mengalami kecelakaan fatal. “Orang kena flu, lalu ketabrak mobil, meninggalnya karena ketabrak mobil, bukan karena flunya,” ujar dia.

Analogi tersebut, kata Budi, menggambarkan bahwa kematian pasien di Bandung dipicu penyakit lain yang sudah diderita sebelumnya, bukan akibat langsung infeksi superflu.

Karena itu, Budi kembali mengingatkan masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan tidak panik menghadapi merebaknya kasus flu.

Pemerintah, kata dia, terus memantau perkembangan penyebaran influenza dan memastikan sistem kesehatan siap menangani kelompok rentan yang memiliki penyakit penyerta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *