ABNnews — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melaporkan telah mendata 769 batang kayu hanyut terseret banjir dengan total volume 1.260,49 meter kubik untuk dimanfaatkan warga terdampak bencana di Aceh Utara, Provinsi Aceh.
“Kayu hanyutan kami pilah di halaman rumah warga dan di sungai mati untuk dimanfaatkan, terutama mendukung pembangunan hunian sementara,” kata Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Subhan dalam pernyataan diterima di Jakarta, Sabtu.
Angka itu memperlihatkan jumlah pendataan kayu sampai dengan Kamis (08/01) sebagai bagian dari penanganan kayu terseret banjir di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.
Di lokasi tersebut, dikerahkan 87 personel Kemenhut dengan dukungan 38 alat berat milik Kemenhut, TNI, dan Kementerian Pekerjaan Umum untuk penanganan pasca-bencana. Seperti dilansir dari antaranews, kegiatan difokuskan pada pemilahan kayu di halaman rumah warga agar dapat dimanfaatkan.
Pemanfaatan kayu di Aceh Utara telah digunakan oleh lembaga Rumah Zakat untuk pembangunan sembilan huntara, dengan rincian 8 unit masih dalam proses pembangunan dan satu unit telah selesai.
Selain itu, 54 personel Kemenhut dan Saka Wanabakti juga melakukan pembersihan fasilitas pendidikan di wilayah tersebut.
Untuk wilayah Sumatera Utara, pemilahan kayu di wilayah Garoga telah mencapai 100 persen di Garoga I, Garoga II, dan Garoga III, serta 80 persen pada jalur Desa Garoga, Huta Godang dan Aek Ngadol.
Hasil pengolahan kayu per Kamis (8/1) mencapai 228 batang dengan volume 3,1560 meter kubik, sehingga total akumulasi menjadi 793 batang dengan volume 12,0035 meter kubik, yang diperuntukkan pembangunan huntara di Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru.
Selain pemanfaatan kayu, kegiatan juga mencakup penataan lingkungan dan land clearing untuk rencana huntara dan hunian tetap di areal PTPN IV Desa Aek Pining seluas rencana 15 hektare, dengan realisasi pembukaan lahan hingga saat ini sekitar 1,028 hektare.













