ABNnews – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menargetkan penggunaan biomassa hingga 10 juta ton pada 2030 untuk menggantikan molekul fosil dalam pembangkitan listrik nasional. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menekan emisi karbon sekaligus mendukung transisi energi bersih di Tanah Air.
Hingga akhir 2025, PLN EPI membidik pemanfaatan biomassa sebesar 2,5 juta ton. Implementasi cofiring biomassa tersebut diklaim telah menurunkan emisi karbon sekitar 2,6 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) dari 14 jenis biomassa yang digunakan.
Direktur Bioenergi PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan, cofiring biomassa merupakan instrumen efektif dalam mendukung target net zero emission (NZE) karena mampu menekan emisi secara langsung melalui penggantian molekul fosil.
“Bioenergi itu unik karena molekul fosilnya diganti dengan molekul hayati. Secara life cycle assessment, ini terbukti mampu mereduksi emisi karbon secara signifikan,” kata Hokkop dalam keterangan resmi, Kamis (18/12/2025).
Ia optimistis target 10 juta ton biomassa pada 2030 dapat tercapai, mengingat besarnya potensi biomassa nasional yang berasal dari limbah pertanian, kehutanan, kayu, hingga pulp.
PLN EPI mencatat, potensi biomassa Indonesia mencapai sekitar 280 juta ton per tahun. Namun, pemanfaatannya baru sekitar 20 juta ton. Sementara itu, potensi biomassa yang relatif mudah diakses diperkirakan mencapai 60 juta ton. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, potensi yang siap dimanfaatkan diproyeksikan sekitar 7,3 juta ton.
“Untuk 2–3 tahun ke depan, kami punya potensi sekitar 7,3 juta ton, yang sebenarnya ini ada di depan mata,” ujarnya.
Meski demikian, Hokkop menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar pemanfaatan biomassa bisa optimal. Menurutnya, potensi bioenergi Indonesia setara dengan negara-negara yang lebih dulu mengembangkan bioenergi secara masif seperti Brasil, namun belum dimanfaatkan secara maksimal karena masih minimnya sinergi antarpemangku kepentingan.
Saat ini, PLN EPI mencatat sekitar 480 megawatt (MW) pembangkit listrik tenaga (PLT) biomassa berada dalam tahap konstruksi, tender, dan perencanaan, dengan kebutuhan biomassa sekitar 2,5 juta ton. Program ini dijalankan bersama induk usaha, PT PLN (Persero), sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional menuju sistem kelistrikan yang lebih bersih dan berkelanjutan.













