banner 728x250

Menteri PU Ngamuk di Nganjuk, Ngaku Nyaris Tonjok Anak Buah Gara-gara Ini

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengakui kementeriannya belum bisa menjaga integritas dengan baik. (ANTARA FOTO/Makna Zaezar).

ABNnews – Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, akhirnya blak-blakan soal aksinya yang tersulut emosi saat meninjau proyek Sekolah Rakyat (SR) di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (11/4) kemarin.

Dody mengaku sangat jengkel karena progres pembangunan di sana jauh tertinggal dibandingkan daerah lain seperti Surabaya dan Sampang.

“Nganjuk kan memang sangat-sangat tertinggal ya, mungkin baru 15 persen. Yang saya tidak suka, saat saya datang tim saya malah kasih excuse (alasan), bukannya saran buat ngejar ketertinggalan,” ujar Dody saat meninjau pembangunan SR di Kedung Cowek, Surabaya, Minggu (12/4/2026).

Saking emosinya melihat program prioritas Presiden Prabowo Subianto digarap asal-asalan, Dody mengaku hampir saja melakukan tindakan fisik kepada bawahannya yang dinilai tidak serius. Ia pun memberikan peringatan keras kepada para ASN.

“Kalau hari kemarin saya masih umur 20 tahun, saya tonjok itu PPK-nya! Benar saya tonjok itu. Jengkel saya. Jangan main-main sama program Pemerintah Presiden. Kalau ada ASN yang nggak suka dengan Pak Presiden Prabowo Subianto, keluar dari ASN! Berhenti! Jangan buat begini,” tegas Dody dengan nada tinggi.

Dody juga menyoroti desas-desus bau tak sedap di kementeriannya. Ia bingung melihat anak buahnya di Direktorat Jenderal Prasarana Strategis (DJPS) seolah tak berani bersikap tegas kepada penyedia jasa (kontraktor). Muncul spekulasi apakah ada “aliran dana” yang menghambat pengawasan.

“Kenapa tim saya kok seolah-olah takut kepada penyedia jasa? Memang ada rumor di luar nih, penyedia jasa kasih sesuatu ke tim saya. Saya nggak bisa buktikan, tapi fakta yang saya terima di lapangan seperti kemarin di Nganjuk itu bikin saya bingung,” ucapnya.

Kekesalan Dody kian memuncak saat tahu ada ketidaksinkronan jadwal. Presiden Prabowo ingin sekolah sudah bisa dipakai awal Juli 2026, tapi administrasi kontrak justru mematok waktu selesai pada 23 Juli. Hal ini dianggap Dody seolah-olah melawan perintah kepala negara.

“Perintah Presiden itu Juli adik-adik kita sudah masuk ke Sekolah Rakyat baru. Eh, kontraknya 23 Juli. Ya saya juga bingung,” tambahnya.

Buntut dari kejadian ini, Dody memastikan bakal melakukan evaluasi besar-besaran minggu depan. Ia mengaku sudah kehilangan kepercayaan pada tim pengawas dari level pusat hingga daerah.

“Minggu depan saya akan pasti bongkar habis tuh urusan Prasarana Strategis. Saya sudah kasih warning dua bulan loh. Saya rasa mereka orang-orang yang tidak bisa saya percaya lagi. Dari Jakarta, Dirjen, Direktur, dan seterusnya,” tegas Dody.

Meski murka di Nganjuk, Dody memberikan jempol untuk pengerjaan SR di Kedung Cowek, Surabaya. Proyek yang digarap PT Waskita Karya itu dipuji karena sudah mencapai 45% dan dipastikan beres tepat waktu untuk menampung sekitar 1.000 siswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *