ABNnews — Di tengah tuntutan global terhadap industri material konstruksi yang ramah lingkungan, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WIKA Beton) mempertegas komitmennya dalam mengakselerasi transisi energi dan dekarbonisasi.
Dalam ajang Katadata ESG Forum 2026 yang berlangsung di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (06/04), perusahaan memaparkan peta jalan transformasi hijau yang kini menjadi pilar utama dalam menjaga resiliensi bisnis di masa depan.
Kehadiran WIKA Beton dalam forum ini menjadi representasi penting bagi sektor manufaktur yang selama ini diidentikkan dengan aktivitas padat emisi.
Katadata Green, sebagai inisiator forum tersebut, menempatkan kerangka lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) sebagai instrumen krusial untuk memastikan transisi ekonomi rendah karbon berjalan secara terukur dan kredibel di level nasional.
Direktur Utama WIKA Beton, Kuntjara, dalam diskusi panel bertajuk “ESG, Dekarbonisasi, dan Masa Depan Bisnis Hijau Indonesia”, menekankan bahwa ESG telah bertransformasi dari sekadar kewajiban kepatuhan menjadi strategi inti perusahaan.
Menurutnya, mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam setiap lini operasional merupakan langkah mendasar untuk memperkuat daya saing di tengah arus dekarbonisasi industri material global.
Langkah konkret yang telah diambil perusahaan meliputi substitusi penggunaan semen konvensional dengan produk rendah karbon guna mengoptimalkan efisiensi produksi sekaligus menekan limbah.
Selain inovasi material, WIKA Beton juga mulai beralih ke pemanfaatan energi terbarukan dan penggunaan kendaraan listrik untuk menekan jejak karbon operasional.
Upaya sistematis ini membuahkan pengakuan internasional berupa skor ESG S&P Global sebesar 71, yang menempatkan perusahaan di posisi 13 persen teratas dalam industri global.
Di tingkat domestik, perusahaan menjadi pionir yang memiliki sertifikasi Environmental Product Declaration (EPD) dan Greenship Solution Endorsement (GSE).
Pencapaian ini menegaskan bahwa setiap produk yang dihasilkan telah melewati audit lingkungan yang ketat, memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan yang mengutamakan aspek keberlanjutan dalam proyek konstruksi mereka.
Kuntjara menambahkan bahwa visi menuju target nol emisi karbon harus dibarengi dengan tata kelola yang presisi. Perusahaan berupaya memastikan bahwa praktik keberlanjutan tetap selaras dengan keunggulan operasional dan margin keuntungan yang sehat.
Baginya, pemanfaatan teknologi tepat guna merupakan jembatan untuk mencapai keseimbangan antara biaya, kualitas, dan kontribusi terhadap lingkungan.
Komitmen WIKA Beton ini diharapkan menjadi pemantik bagi ekosistem industri konstruksi di tanah air untuk lebih agresif dalam mengadopsi praktik hijau. Melalui sinergi dalam ekosistem Danantara dan kolaborasi lintas sektor sesama BUMN, perusahaan bertekad memperkokoh perannya sebagai lokomotif transformasi yang siap membawa industri konstruksi Indonesia menuju masa depan yang lebih rendah karbon dan berdaya saing global.
***













