ABNnews – Sebuah video yang menunjukkan aksi tak biasa seorang tenaga kesehatan di RSUD Datu Beru, Takengon, Aceh Tengah, mendadak jadi sorotan publik.
Dalam video yang beredar luas di media sosial, nakes berpakaian operasi lengkap warna hijau itu tampak asyik berjoget, sementara tim medis lainnya sedang sibuk menangani pasien di meja operasi.
Sontak saja, aksi “healing” yang salah tempat ini memancing beragam reaksi dari warganet. Banyak yang menyayangkan profesionalisme sang nakes di tengah situasi yang kritis bagi nyawa pasien.
Direktur RSUD Datu Beru Angkat Bicara
Menanggapi kegaduhan tersebut, Direktur RSUD Datu Beru, dr. Gusnarwin, membenarkan peristiwa memalukan itu terjadi di institusinya. Ia menjelaskan bahwa aksi joget tersebut dilakukan secara spontan di area belakang ruang operasi.
“Proses operasi tetap berjalan sesuai standar medis, keselamatan pasien tetap jadi prioritas utama,” tegas dr. Gusnarwin saat dikonfirmasi, Kamis (2/4/2026).
Meski diklaim tidak mengganggu prosedur medis, pihak rumah sakit tidak tinggal diam.
Nasib Nakes: Berakhir di BKPSDM
Pihak rumah sakit bergerak cepat melakukan pemeriksaan internal. Hasilnya cukup pahit bagi nakes yang diketahui berinisial RSB tersebut. Karena statusnya sebagai pegawai P3K, ia kini dikembalikan ke BKPSDM Aceh Tengah untuk pembinaan lebih lanjut.
“Kami menyayangkan kejadian ini dan terus berupaya memperbaiki serta belajar dari kasus ini agar tidak terulang di masa depan,” tambah dr. Gusnarwin.
Permintaan Maaf Sambil Menyesal
Sang nakes, Riga Septian Bahri, akhirnya muncul dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui video klarifikasi. Dengan wajah lesu, ia menegaskan aksinya murni spontanitas dan tidak bermaksud menyindir pihak mana pun.
“Dari hati yang paling dalam, saya minta maaf kepada pihak rumah sakit dan masyarakat yang tidak senang melihat video saya. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” ujar Riga penuh penyesalan.
Kini, pihak RSUD Datu Beru memastikan akan memperketat pengawasan di area-area sensitif agar profesionalisme tetap terjaga dan keselamatan pasien tidak terabaikan oleh konten media sosial.













