banner 728x250

Malaysia hingga Vietnam Sudah Naik, Kenapa Harga BBM di Indonesia Masih ‘Adem Ayem’?

Ilustrasi. Foto dok Pertamina

ABNnews – Konflik panas di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Namun, pantauan di sejumlah SPBU di Indonesia, harga bahan bakar minyak (BBM) terpantau masih “adem ayem” alias belum mengalami perubahan sejak awal Maret 2026.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, hingga Vietnam yang sudah mulai mengerek naik harga BBM mereka.

Berdasarkan situs resmi Pertamina per Senin (23/3/2026), harga BBM jenis Pertamax Series dan Dex Series masih dipatok dengan harga yang sama:
* Pertalite (RON 90): Rp 10.000/liter

* Solar Subsidi: Rp 6.800/liter

* Pertamax (RON 92): Rp 12.300/liter

* Pertamax Turbo (RON 98): Rp 13.100/liter

* Pertamax Green (RON 95): Rp 12.900/liter

* Dexlite: Rp 14.200/liter

* Pertamina Dex: Rp 14.500/liter


Tak hanya Pertamina, operator swasta seperti Shell, BP, dan Vivo juga belum mengubah label harga mereka. Shell Super (RON 92) dan BP 92 misalnya, masih dijual seharga Rp 12.390 per liter.

Negara Tetangga Mulai ‘Kebakaran’ Harga

Kontras dengan Indonesia, tren kenaikan justru mencekik kantong warga di negara tetangga:
* Malaysia: Harga RON 95 melonjak tajam menjadi 3,27 ringgit per liter dari sebelumnya 2,59 ringgit. Sementara diesel di Semenanjung Malaysia melesat ke angka 4,72 ringgit.

* Singapura: Di SPBU Caltex dan Shell, bensin oktan 95 kini dibanderol hingga 3,47 dolar Singapura per liter (sebelum diskon), naik signifikan dari harga akhir Februari yang masih di angka 2,88 dolar Singapura.

* Thailand: Harga gasohol dan bensin naik rata-rata 1 baht per liter. Bensin jenis petrol kini nangkring di harga 41,64 baht per liter.

* Vietnam: Harga bensin RON 95-III meningkat menjadi 30.690 Vietnam Dong per liter, atau naik sekitar 5.115 Dong dari periode sebelumnya.

Kenapa Indonesia Belum Naik?

Meskipun harga minyak dunia sedang bergejolak akibat eskalasi perang di Timur Tengah, pemerintah Indonesia tampaknya masih menahan harga untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama di masa libur Lebaran. Namun, publik tentu bertanya-tanya sampai kapan harga ini bisa bertahan di tengah beban subsidi yang berpotensi membengkak.

Hingga saat ini, pihak Pertamina maupun pemerintah belum memberikan sinyal terkait penyesuaian harga dalam waktu dekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *