ABNnews – Tradisi bermaaf-maafan saat Lebaran kini mengalami pergeseran. Jika dulu umat Islam identik dengan kunjungan rumah ke rumah untuk sungkeman, kini banyak yang memilih jalur digital via WhatsApp (WA) atau media sosial.
Lantas, bagaimana sebenarnya hukum meminta maaf lewat dunia maya?
Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Miftahul Huda, menegaskan bahwa menyampaikan permohonan maaf melalui pesan singkat atau medsos hukumnya diperbolehkan.
“Hukumnya adalah sah dan boleh. Apalagi yang terkendala dengan jarak atau waktu, atau bagi orang yang tidak punya kesempatan untuk bertatap muka secara langsung atau bertemu,” ujar Miftahul dikutip kompascom, Jumat (20/3/2026).
Solusi Jaga Persaudaraan di Era Digital
Miftahul menilai fitur di media sosial bisa menjadi solusi efektif untuk menyambung silaturahmi yang mungkin sempat terputus. Meski sah, ia mengingatkan umat Islam untuk tetap menjaga etika dalam berkomunikasi secara digital.
Berikut beberapa poin etika silaturahmi digital menurut MUI:
* Gunakan Bahasa Sopan: Tetap mengedepankan tata krama sosial yang baik.
* Hindari Hoaks: Jangan menyelipkan informasi palsu saat mengirim pesan maaf.
* Prioritas Hubungan: Jadikan medsos sebagai sarana tulus menyambung persaudaraan.
Keutamaan Silaturahmi: Pahala hingga Ancaman Ngeri
Lebih lanjut, Miftahul memaparkan bahwa silaturahmi memiliki kedudukan istimewa sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Ada pahala luar biasa bagi mereka yang mau menyambung kembali komunikasi dengan orang yang memutus hubungan.
Sebaliknya, ada peringatan keras bagi mereka yang justru sengaja memutus tali kekerabatan.
“Terdapat hadis yang mengatakan bahwa Rasulullah mengancam barangsiapa yang memutus tali silaturahmi, maka tidak akan masuk surga,” jelasnya.
Meneladani Sikap Rasulullah SAW
Rasulullah SAW adalah contoh nyata pribadi yang paling gemar bersilaturahmi. Menariknya, Nabi tidak hanya berbuat baik kepada sesama muslim, tetapi juga menjaga hubungan kemanusiaan dengan umat beragama lain.
* Berjabat Tangan & Mendoakan: Menjadi kebiasaan Nabi saat bertemu orang lain.
* Hubungan Kemanusiaan: Nabi menjalin hubungan baik dengan umat Yahudi dan Nasrani.
* Kekuatan Doa: Dalam sebuah riwayat, Nabi tetap mendoakan orang Yahudi yang memusuhinya hingga orang tersebut akhirnya memeluk Islam.
“Jadi ketika bersilaturahmi itu berjabat tangan, kemudian mendoakan. Nabi juga menjalin silaturahmi hubungan kemanusiaan dengan mereka (non-muslim),” pungkas Miftahul.













