ABNnews – Industri fesyen muslim atau modest fashion Indonesia tengah berada di atas angin. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, konsumsi produk fesyen muslim dunia diproyeksikan bakal menyentuh angka fantastis, yakni USD 433 miliar (setara Rp 6.800 triliun) pada tahun 2028.
Merujuk laporan State of Global Islamic Economy Report (SGIER) 2024/2025, Indonesia kini menempati peringkat pertama dalam ekosistem lokal yang mendukung industri ini.
“Indonesia harus berkembang sehingga mampu membuka peluang strategis sebagai produsen sekaligus pusat tren modest fashion dunia,” ujar Menperin Agus Gumiwang dalam keterangannya, Jumat (13/3/2026).
Ekspor Melejit 83 Persen
Capaian ekspor Indonesia ke negara-negara anggota Organization Islamic Cooperation (OIC) menunjukkan tren positif. Pada 2023, nilai ekspor tercatat mencapai USD 990 juta, melonjak tajam dari tahun sebelumnya yang hanya USD 540 juta.
Meskipun meroket, Menperin mengingatkan bahwa pasar OIC saat ini masih didominasi oleh China, Turki, dan India. Hal ini menjadi tantangan bagi stakeholder dalam negeri untuk terus meningkatkan daya saing.
Fakta Industri Modest Fashion RI:
* Jumlah Industri Kecil: 594 ribu unit usaha pakaian jadi.
* Serapan Tenaga Kerja: Mencapai 1,2 juta pekerja.
* Pertumbuhan Ekspor: Naik 83% secara tahunan (YoY).
* Posisi Global: Masuk 7 besar negara pengekspor ke OIC.
Wajib Sertifikasi Halal Mulai Oktober 2026
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menyebutkan bahwa momentum besar akan terjadi pada akhir tahun ini. Mulai Oktober 2026, sertifikasi halal akan diberlakukan untuk produk barang gunaan, termasuk pakaian.
“Kebijakan ini tidak hanya memberikan jaminan kualitas dan keamanan, tetapi juga menciptakan nilai tambah (added value) bagi produk kita di pasar global,” tutur Reni.
Penerapan sertifikat halal ini diharapkan menjadi pembeda utama (diferensiasi) produk Indonesia dibandingkan kompetitor seperti China atau India, terutama untuk menembus pasar negara-negara dengan populasi muslim besar.
Pemerintah juga terus mendukung ajang kreatif seperti Ramadan Runway yang kini memasuki tahun ke-14. Momentum Ramadan dinilai bukan sekadar urusan ibadah, tapi juga motor penggerak ekonomi kreatif.
“Diharapkan acara ini mampu menjadi ruang ekspresi bagi desainer untuk menampilkan karya yang santun, berkarakter, namun tetap modern,” pungkas Direktur IKM Kimia, Sandang dan Kerajinan, Budi Setiawan.













