ABNnews – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa blak-blakan mengenai dampak ngeri konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran terhadap ekonomi Indonesia.
Purbaya mewanti-wanti bahwa ketegangan di Timur Tengah ini bisa memberikan tekanan hebat lewat berbagai jalur transmisi.
Pemerintah saat ini terus memantau pergerakan konflik tersebut. Pasalnya, dampak perang tersebut bisa merembet ke dalam negeri mulai dari urusan dagang, pasar keuangan, hingga “kesehatan” APBN.
“Bagi Indonesia dampaknya ditransmisikan dari beberapa jalur yang harus kita waspadai,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA di Kantor Kementerian Keuangan, Rabu (11/3/2026).
Hantu Harga Minyak dan Selat Hormuz
Purbaya menjelaskan, jalur pertama yang paling diwaspadai adalah sektor perdagangan. Konflik ini berpotensi mengganggu urat nadi distribusi energi global, yakni Selat Hormuz.
Apalagi, pasca-serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu, Iran merespons dengan mengancam bakal menutup selat selebar 33 kilometer tersebut. Padahal, jalur ini memegang peranan vital bagi 20 persen lalu lintas minyak mentah dan gas alam cair dunia.
Menurut Purbaya, jika harga minyak dunia meroket, beban impor migas Indonesia akan membengkak. Hal ini otomatis bakal menekan surplus neraca perdagangan serta neraca pembayaran Indonesia.
Investor Kabur, Rupiah Terancam
Jalur kedua adalah pasar keuangan global. Ketegangan geopolitik membuat investor global cenderung mengambil sikap risk off atau menarik dananya dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kondisi ini berpotensi memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar domestik yang bakal memukul berbagai instrumen keuangan.
“Ketidakpastian global dapat memicu capital outflow, tekanan pada pasar saham, obligasi, dan nilai tukar Rupiah, serta dapat meningkatkan cost of fund,” tegas Purbaya.
APBN Jadi ‘Bumper’ Krisis
Terakhir adalah dari sisi fiskal. Purbaya menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus kembali bekerja keras sebagai peredam gejolak atau shock absorber.
Namun, ia tak menampik bahwa beban negara akan meningkat drastis, terutama jika harga energi melambung tinggi yang berujung pada membengkaknya subsidi.
“APBN berperan sebagai shock absorber meski menghadapi potensi kenaikan subsidi energi dan beban bunga utang,” jelasnya.
Meski begitu, Purbaya menyebut masih ada peluang windfall profit atau keuntungan tak terduga dari kenaikan harga komoditas andalan Indonesia lainnya, seperti batu bara, CPO, dan nikel yang biasanya ikut terkerek naik saat situasi global memanas.













