Catatan Cak AT
Jika ramalan Prof. Jiang Xueqin benar bahwa Amerika suatu hari akan kalah dalam konflik kronis yang berpuncak pada perang besar yang sedang berlangsung melawan Iran, pertanyaan berikutnya bukan lagi siapa menang atau siapa kalah. Pertanyaan yang jauh lebih menarik adalah: setelah itu, apa yang terjadi?
Jawaban Jiang cukup mengejutkan. Ia tidak berbicara tentang kehancuran Amerika, apalagi runtuhnya negara itu seperti Uni Soviet. Ia justru berbicara tentang sesuatu yang lebih sunyi namun lebih mendalam: reset Amerika. Tapi ini agaknya berbeda dari “Reset Indonesia” gagasan rekan saya Farid Gaban dkk.
Dalam pandangan Jian, kekuatan global tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat, berpindah bentuk, dan berpindah pusat. Dunia tidak sedang menuju kekacauan, melainkan sedang mengalami apa yang ia sebut sebagai _structural reset_ — perubahan besar dalam cara kekuasaan global diatur.
Untuk memahami maksudnya, Jiang mengajak kita mundur sejenak ke tahun 1991, ketika Uni Soviet runtuh. Dunia tiba-tiba menjadi unipolar. Amerika Serikat menjadi satu-satunya kekuatan besar tanpa pesaing serius. Dari situ lahirlah apa yang disebut “New World Order”.
Tatanan dunia baru itu dibangun di atas perdagangan global. Namun karena Amerika menguasai dolar sebagai mata uang cadangan dunia, mereka juga secara tidak langsung menguasai sesuatu yang jauh lebih halus: kemampuan menentukan harga.
“Pricing,” kata Jiang, bukan sekadar harga barang di pasar. Ia adalah cara menentukan nilai seluruh aktivitas ekonomi dunia.
Dari sinilah terbentuk sebuah hierarki global yang tidak tertulis tetapi sangat nyata. Di lapisan paling bawah ada sumber daya alam. Di atasnya ada manufaktur. Di atas manufaktur ada pengetahuan dan teknologi. Dan di puncaknya ada keuangan.
Dalam pembagian kerja global itu, Jiang secara acak membagi Rusia, Afrika, dan Amerika Selatan sebagai penyedia sumber daya. China menjadi pabrik dunia. Eropa menjadi pusat pengetahuan dan teknologi. Dan Amerika berada di puncak piramida sebagai pusat keuangan global.
Secara teori, sistem ini tampak indah seperti poster ekonomi liberal. Semua negara bekerja sesuai keunggulannya, perdagangan berkembang, dan dunia tampak semakin makmur. Masalahnya, seperti banyak sistem yang tampak sempurna di papan tulis, ia menyimpan bom waktu di dalamnya.
Ketika sebuah negara terlalu fokus pada sektor finansial, kata Jiang, ekonominya perlahan berubah menjadi ekonomi spekulatif. Uang tidak lagi digunakan untuk menghasilkan barang atau teknologi, tetapi untuk menghasilkan uang yang lebih banyak lagi.
Dengan kata lain, ekonomi berubah sedikit demi sedikit menjadi kasino raksasa. Gejalanya terlihat jelas dalam krisis finansial 2008, ketika sistem keuangan Amerika hampir runtuh. Saat itu dunia berada di tepi jurang ekonomi global.
Menurut Jiang, sistem itu diselamatkan oleh sesuatu yang jarang dibicarakan secara terang-terangan: keputusan China untuk menggelontorkan investasi raksasa dalam pembangunan infrastruktur.
Bandara baru, kota baru, rel kereta cepat, pelabuhan raksasa — semuanya dibangun dalam skala yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya. Investasi besar itu membantu menjaga permintaan global tetap hidup, sehingga ekonomi dunia tidak ikut runtuh.
Tetapi langkah itu juga membuat China menanggung utang besar. Setelah itu, Beijing mulai mengatakan sesuatu yang terdengar sederhana tetapi sebenarnya sangat politis: jika kami membantu menyelamatkan ekonomi dunia, maka kami juga berhak duduk di meja kekuasaan global.
China ingin menjual teknologi mereka, bersaing dalam pasar global, dan menjadi kekuatan setara dengan Amerika. Dan tampaknya itu berhasil, terbukti mulai dari produk-produk otomotif China hingga akal imitasi alias AI.
Jawaban Washington, menurut Jiang, pada dasarnya adalah: tidak. Dari sinilah lahir perang dagang Amerika–China pada era Donald Trump. Persaingan itu kemudian meluas menjadi konflik teknologi, geopolitik, dan ekonomi global.
Lalu datang peristiwa lain yang mengguncang sistem itu: perang Rusia–Ukraina pada 2022. Dalam perspektif Jiang, perang itu bukan sekadar konflik wilayah. Itu adalah pemberontakan terhadap hierarki ekonomi global.
Dalam konteks ini, perang terbaru antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dapat dilihat sebagai salah satu katalis yang mempercepat proses reset tersebut.
Konflik meletus dahsyat di akhir Februari 2026. AS dan Israel melancarkan serangan besar terhadap fasilitas militer dan nuklir Iran. Ini segera memicu serangkaian serangan balasan dari Iran, ketegangan regional, dan gangguan besar terhadap energi serta perdagangan global.
Jalur energi vital seperti Selat Hormuz terancam, pasar energi dunia terguncang, dan jaringan aliansi di Timur Tengah ikut bergetar.
Dalam perspektif teori Jiang, perang semacam ini bukan sekadar konflik regional, melainkan ujian terhadap sistem global yang selama ini menopang dominasi Amerika — mulai dari stabilitas dolar hingga keamanan jalur energi dunia.
Jika perang itu menguras sumber daya Amerika atau mempercepat munculnya sistem ekonomi alternatif, maka konflik tersebut justru berperan sebagai mekanisme sejarah yang mempercepat proses “reset” kekuatan global yang sedang berlangsung.
AS ingin tetap menguasai, bahkan merebut, sumber daya di negara-negara lain. Jika sumber daya adalah fondasi seluruh sistem, maka siapa yang menguasai sumber daya memiliki kartu tawar yang besar. Tanpa energi, tanpa mineral, tanpa pangan, tidak ada manufaktur, tidak ada teknologi, dan tentu saja tidak ada keuangan.
Rusia dan Ukraina bersama-sama menyumbang bagian besar dari pasokan gandum dunia. Ketika konflik meletus, stabilitas pangan global ikut terguncang.
Dari titik ini Jiang melihat sesuatu yang lebih besar sedang terjadi: sistem global yang dibangun setelah Perang Dingin mulai retak.
Amerika berusaha mempertahankan sistem lama — dolar, jaringan finansial global, dan dominasi ekonomi. Sementara kekuatan lain seperti China dan Rusia mencoba membangun sistem alternatif.
Di sinilah muncul gagasan seperti BRICS, jalur perdagangan baru, dan upaya mengurangi ketergantungan pada dolar.
Semua itu bagi Jiang bukan tanda kekacauan dunia. Ia adalah tanda bahwa permainan lama sedang di-reset. Dan di tengah reset itu, Amerika sendiri pada akhirnya harus ikut berubah. Bukan hilang, tetapi beradaptasi.
Jika kembali ke Ibnu Khaldun, situasi ini terasa seperti bab klasik dalam siklus sejarah. Ketika sebuah kekuasaan terlalu lama berada di puncak, ia sering lupa bahwa sistem yang ia bangun juga bisa berubah.
Kemewahan ekonomi, dominasi finansial, dan rasa tak tergantikan sering membuat sebuah imperium sulit melihat perubahan yang sedang tumbuh di pinggiran sistemnya.
Tetapi sejarah selalu bergerak seperti sungai besar. Ia bisa berubah arah perlahan tanpa suara, sampai suatu hari orang baru sadar bahwa alirannya sudah berbeda.
Mungkin itulah yang dimaksud Jiang dengan reset Amerika. Bukan akhir dari Amerika, tetapi akhir dari satu cara Amerika memimpin dunia.
Sejarah tidak pernah benar-benar menghapus kekuatan besar. Ia hanya memaksa mereka belajar lagi bagaimana hidup dalam dunia yang sudah berubah.
Cak AT – Ahmadie Thaha
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 12/3/2026













