banner 728x250
Opini  

Siklus Sejarah Menuju Keruntuhan Israel

Catatan Cak AT

Para ulama salaf memang tidak pernah membuat prediksi seterang lampu stadion seperti disorot Syeikh Ahmad Yasin, yang bahkan langsung menyebut angka 2027. Namun para sarjana besar dalam peradaban Islam memang sudah sejak lama berbicara tentang siklus sejarah.

Di negeri kita, kalau ada yang bilang “2027 Israel runtuh”, biasanya reaksi orang terbagi dua. Yang pertama langsung mengangguk seperti santri menemukan dalil baru setelah ngopi dua gelas. Yang kedua langsung mencibir, seolah baru saja menemukan vaksin anti-ramalan.

Perdebatan ini makin ramai setelah beredar video Ustadz Adi Hidayat yang secara singkat menjelaskan prediksi bahwa Israel akan hancur pada tahun 2027. Ia merujuk pendapat Syeikh Ahmad Yasin, pendiri Hamas yang wafat dalam serangan Israel pada 2004.

Menariknya, Ustadz Adi Hidayat bahkan menambahkan gambaran kemungkinan kondisi Israel setelah tahun-tahun itu hingga melebar ke dekade 2040-an—periode. Tahun itu, di Indonesia sendiri, sering disebut sebagai masa “Indonesia Emas” 1945–2045.

Lalu orang bertanya, dengan nada antara penasaran dan sedikit menuduh: apakah Anda percaya pada prediksi itu? Jawaban saya sederhana: iya, saya percaya.

Tapi jangan buru-buru bayangkan saya sedang menunggu kalender kiamat geopolitik sambil menghitung mundur seperti petugas peluncuran roket. Kepercayaan di sini bukanlah keyakinan pada ramalan mistik, melainkan pada logika sejarah.

Para ulama salaf memang tidak pernah membuat prediksi seterang lampu stadion seperti disorot Syeikh Ahmad Yasin, yang bahkan langsung menyebut angka 2027. Namun para sarjana besar dalam peradaban Islam memang sudah sejak lama berbicara tentang siklus sejarah.

Bahkan seorang sejarawan kelas dunia seperti Ibnu Khaldun dalam karya monumentalnya Muqaddimah menjelaskan bahwa kekuasaan politik memiliki siklus naik-turun. Ia sebut, angkanya sering berkisar antara tiga hingga empat dekade — sekitar satu generasi manusia.

Dalam bahasa sederhana: satu generasi membangun, generasi berikutnya menikmati, generasi setelahnya mulai melemahkan. Jadi, angka itu — 30 sampai 40 tahun — bukan angka gaib. Itu angka biologis manusia.

Menariknya, angka 40 juga muncul dalam salah satu kisah paling dramatis dalam Al-Qur’an, yang cukup relevan dengan perang AS-Israel vs Iran. Itulah kisah Bani Israil setelah keluar dari Mesir pada masa Nabi Musa.

Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 26:
قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ أَرْبَعِينَ سَنَةً يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ
“Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun; mereka akan tersesat di bumi. Maka janganlah engkau bersedih hati terhadap kaum yang fasik itu.”

Para mufasir klasik seperti Ibnu Katsir dan Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan bahwa ayat ini turun setelah Bani Israil menolak perintah Nabi Musa as untuk memasuki tanah suci. Mereka takut kepada kaum yang kuat yang mendiami wilayah itu.

Bahkan dengan polos — atau mungkin dengan sedikit gaya nyinyir — orang-orang Israel berkata kepada Musa: “Engkau pergi sajalah bersama Tuhanmu dan berperanglah. Kami duduk saja di sini.”

Kalimat itu dalam bahasa modern mungkin kira-kira berbunyi: “Anda saja yang maju, kami dukung dari WhatsApp.”

Penolakan itu dianggap sebagai bentuk ketakutan, ketidaktaatan, dan mentalitas budak yang masih melekat setelah mereka lama hidup di bawah tirani Fir’aun.

Akibatnya Allah menjatuhkan hukuman yang unik: bukan kehancuran, tetapi kebingungan sejarah.

Selama empat puluh tahun mereka hidup dalam keadaan “tiih” — tersesat di padang Sinai. Siang berjalan, malam kembali ke tempat yang sama. Seperti seseorang yang keliling mall lima jam tapi tetap keluar lewat pintu yang sama dengan wajah bingung.

Namun yang menarik, menurut ahli tafsir, periode itu bukan sekadar hukuman. Itu adalah proses pendidikan sejarah.

Generasi yang takut berperang itu harus habis terlebih dahulu. Generasi baru harus lahir — generasi yang tidak tumbuh dalam mentalitas budak.

Empat puluh tahun kemudian, generasi baru itu dipimpin oleh Yusha bin Nun untuk memasuki tanah suci.

Di sini kita melihat pola yang sangat menarik. Yaitu bahwa sejarah kadang tidak berubah karena pidato, tetapi karena pergantian generasi.

Lalu bagaimana Syeikh Ahmad Yasin membaca kisah ini? Ia barangkali tidak sedang menafsirkan Al-Qur’an sebagai kalender politik. Ia hanya melihat pola sejarah.

Ia mencatat, negara Israel berdiri tahun 1948. Empat puluh tahun kemudian, 1987, meledak Intifada pertama, berupa pemberontakan rakyat Palestina yang mengubah wajah konflik.

Pada tahun yang sama itulah lahir Hamas. Inilah gerakan yang kemudian menjadi salah satu aktor utama dalam perlawanan Palestina, bahkan hingga sekarang jadi momok bagi Israel dan Amerika Serikat.

Jika pola generasi itu berlanjut, maka siklus 40 tahun berikutnya berakhir sekitar 2027. Di titik itulah Ahmad Yasin memperkirakan Israel akan memasuki krisis historis yang sangat besar.

Apakah itu berarti Israel benar-benar runtuh? Jawaban persisnya, tidak ada yang tahu. Bahkan para nabi pun tidak diberi akses ke Google Calendar masa depan. Hanya Allah Yang Mahatahu.

Namun sejarah memang sering bekerja dengan cara yang mengejutkan. Bayangkan, imperium Soviet runtuh ketika para analis Barat masih sibuk menulis laporan tebal tentang kekuatan militernya.

Kekaisaran Ottoman jatuh ketika orang masih menganggapnya terlalu besar untuk gagal. Bahkan tembok Berlin runtuh lebih cepat dari prediksi para ilmuwan politik.

Sejarah sering seperti domino: lama berdiri tegak, lalu tiba-tiba jatuh dalam satu malam. Apalagi negara yang hidup dalam konflik permanen seperti Israel yang ogah tenang.

Israel hari ini menghadapi tekanan demografi, krisis politik internal, delegitimasi internasional, dan konflik regional yang terus melebar.

Tidak ada yang memastikan ia bakal runtuh besok atau tahun depan. Tetapi jelas ia tidak hidup dalam keadaan stabil.

Jadi ketika orang bertanya apakah saya percaya pada prediksi 2027, jawaban saya bukanlah iman pada angka. Saya percaya pada hukum sejarah.

Bahwa setiap bangsa yang kehilangan keberanian moral, tenggelam dalam ketakutan, dan hidup dalam konflik tanpa solusi, suatu hari akan mengalami fase “tiih” sejarahnya sendiri. Itulah fase kebingungan, kehilangan arah, dan pergantian generasi.

Sejarah tidak selalu menghancurkan bangsa. Kadang ia hanya membuat mereka tersesat cukup lama sampai mereka belajar kembali berjalan.

Dan kalau kita jujur, pelajaran itu tidak hanya berlaku untuk Israel. Ia berlaku untuk siapa saja yang mengira sejarah akan selalu berpihak kepadanya.

Cak AT – Ahmadie Thaha
Ma’had Tadabbur al-Qur’an,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *