ABNnews – Sektor industri pengolahan nasional sukses mencatatkan tinta emas di tahun 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan industri manufaktur melesat di angka 5,30%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,11%.
Capaian ini menjadi momentum bersejarah. Sebab, baru kali ini pertumbuhan industri kembali berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional setelah menanti selama 14 tahun, atau terakhir kali terjadi pada 2011 silam.
“Kinerja positif ini sejalan dengan kontribusi industri pengolahan terhadap PDB nasional yang mencapai 19,07% pada 2025,” tulis laporan tersebut.
Raja Manufaktur di ASEAN
Di kancah global, taring manufaktur Indonesia makin tajam. Dengan nilai Manufacturing Value Added (MVA) mencapai USD 265,07 miliar, Indonesia kini nangkring di peringkat ke-13 dunia sekaligus menjadi pemimpin di kawasan ASEAN.
Salah satu motor penggeraknya adalah industri furnitur. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut sektor ini bukan sekadar pembuat meja-kursi, tapi model hilirisasi kayu yang krusial.
“Sektor ini menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung langsung dengan pasar global yang nilainya lebih dari USD 736,21 miliar,” ujar Agus Gumiwang dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).
Furnitur Lokal Lawan Gempuran Impor & Aturan Eropa
Meski berjaya, tantangan tetap membayangi. Pada 2025, ekspor furnitur sempat terkoreksi 3% (USD 1,85 Miliar), sementara impor justru naik 6% (USD 0,82 Miliar). Belum lagi aturan ketat Eropa soal deforestasi atau European Union Deforestation Regulation (EUDR).
Menanggapi hal itu, Plt. Dirjen Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menegaskan Indonesia sudah punya “tameng” berupa SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian).
“Kami berkomitmen mendorong transformasi industri furnitur tidak hanya sekadar produsen, namun juga menjadi pusat manufaktur global berbasis desain dan keberlanjutan,” kata Putu di ajang IFEX 2026.
Jurus ‘Mesin Sakti’ Rp 26,1 Miliar
Untuk mendongkrak daya saing, Kemenperin tidak tinggal diam. Lewat Program Restrukturisasi Mesin, pemerintah telah menyuntikkan dana reimbursement sebesar Rp 26,1 Miliar untuk 35 perusahaan.
Hasilnya pun nyata, Efisiensi Proses naik 10,70%, Mutu Produk meningkat 36,28% serta Produktivitas melonjak drastis 32,65%
Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, menyambut baik guyuran teknologi ini.
“Sinergi ini penting agar produk anggota kami tidak hanya kuat di pasar domestik, namun mampu bersaing adil di kancah internasional,” tuturnya.
Ke depan, pemerintah akan fokus pada lima pilar utama: ketersediaan bahan baku, SDM terampil, riset pasar, kapasitas produksi, hingga insentif pajak seperti tax holiday. Dengan teknologi Industri 4.0, furnitur RI diyakini bakal jadi ‘mutiara’ di rantai pasok dunia.













