ABNnews – Indonesia semakin serius menapak jalan transisi energi. Melalui kolaborasi trilateral bersama Amerika Serikat dan Jepang, pemerintah kini tengah memperkuat fondasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) nasional lewat program Foundational Infrastructure for Responsible Use of Small Modular Reactor Technology (FIRST) Workshop.
Fokus utamanya jelas: memperkuat sumber daya manusia (SDM), mematangkan regulasi, dan menyiapkan ekosistem industri nuklir sipil yang aman serta berkelanjutan.
Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), Dadan Kusdiana, menegaskan bahwa nuklir adalah solusi energi masa depan yang stabil dan rendah emisi. Terlebih dengan adanya teknologi Small Modular Reactor (SMR) yang lebih adaptif.
“Nuklir mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dengan teknologi SMR, pengembangan nuklir kini semakin relevan bagi negara berkembang,” ujar Dadan dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026).
Target 2032: PLTN Pertama Kapasitas 250 MW
Pemerintah sudah punya roadmap yang ambisius. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, Indonesia menargetkan:
* Operasional Perdana: PLTN pertama ditargetkan beroperasi komersial pada tahun 2032.
* Kapasitas Awal: Tahap awal akan menyuplai daya sebesar 250 Megawatt (MW).
* Target Jangka Panjang (2060): Kapasitas terpasang diproyeksikan mencapai 35-42 Gigawatt (GW) dengan kontribusi bauran energi primer sekitar 12%.
Langkah ini juga sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2029.
Dukungan Penuh Amerika Serikat dan Jepang
Amerika Serikat dan Jepang menyatakan komitmennya menjadi mitra tepercaya bagi Indonesia. Teknologi dari Negeri Paman Sam disiapkan untuk membangun masa depan energi yang tangguh.
Sementara itu, Jepang melalui kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC) siap berbagi pengalaman panjang dalam standar keselamatan dan transparansi nuklir.
“Jepang siap berdiri berdampingan dengan Indonesia sebagai mitra strategis, baik dalam kerjasama teknis maupun pengembangan SDM,” ungkap Kuasa Usaha Kedutaan Besar Jepang, Mitsuru Myochin.
Mengapa Pilih Nuklir?
Selain untuk mengejar target dekarbonisasi, energi nuklir dipilih karena beberapa keunggulan kompetitif:
1. Efisiensi Lahan: Tidak memerlukan area seluas pembangkit energi terbarukan lainnya.
2. Biaya Operasional: Relatif rendah dalam jangka panjang.
3. Stabilitas: Mampu menyediakan listrik beban dasar (baseload) secara terus-menerus.
FIRST Workshop ini pun menjadi wadah kumpul bagi pembuat kebijakan, akademisi, hingga pelaku industri untuk mematangkan aspek perizinan hingga peluang partisipasi industri lokal dalam proyek raksasa ini.













