ABNnews – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia angkat bicara soal kesepakatan dagang energi raksasa antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS).
Bahlil menegaskan belanja energi senilai USD 15 miliar atau setara Rp 235 triliun (kurs Rp 15.700) itu tidak menambah kuota impor nasional, melainkan hanya mengalihkan sumber pasokan.
Hal itu disampaikan Bahlil dalam acara Semarak Milad ke-28 Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di Jakarta, Minggu (1/3/2026).
“Kebutuhan LPG kita setiap tahun 8,3 juta ton, produksi nasional cuma 1,6 juta ton. Jadi tiap tahun kita impor 7 juta ton. Lalu ada BBM dan crude (minyak mentah). Inilah yang kita konsensuskan kemarin di Amerika untuk belanja USD 15 miliar,” ujar Bahlil.
Cuma ‘Pindah Lapak’, Bukan Tambah Volume
Bahlil menjelaskan bahwa ketergantungan terhadap impor memang belum bisa dihindari karena produksi domestik yang belum mencukupi. Namun, ia menjamin kesepakatan dengan pemerintahan Donald Trump ini tidak akan membuat volume impor membengkak.
“Kita hanya mengganti saja. Jadi volume angka impornya sama, switch tempatnya aja yang berbeda,” jelasnya.
Harga LPG AS Disebut Lebih Miring
Mantan Kepala BKPM ini juga memastikan bahwa harga pembelian tiga komoditas energi tersebut tetap mengikuti mekanisme pasar. Menariknya, Bahlil mengeklaim harga LPG dari Negeri Paman Sam justru lebih kompetitif dibandingkan pemasok dari kawasan lain.
“Harga impor ketiga produk senilai USD 15 miliar dari Amerika tersebut sama dengan harga pasar. Nggak ada perbedaan apakah dari Timur Tengah atau dari Amerika. Bahkan justru untuk LPG dari Amerika jauh lebih murah ketimbang dari negara-negara lain,” tambah Bahlil.
Kedaulatan Energi Tetap Terjaga
Bahlil menepis kekhawatiran publik soal kedaulatan energi nasional akibat kesepakatan besar ini. Ia menegaskan kebijakan ini murni pertimbangan bisnis yang menguntungkan negara dan tidak akan membebani rakyat.
“Yakinlah kedaulatan bangsa ini tetap terjaga, saya tidak akan mungkin menjual bangsa sendiri,” tegasnya.
Rincian Belanja Energi USD 15 Miliar
Kesepakatan ini tertuang dalam Reciprocal Trade Agreement (RTA) yang difinalisasi saat pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington DC, Kamis (19/2).
Berikut rincian belanja energi RI dari Amerika Serikat:
* Impor LPG: Sekitar USD 3,5 miliar.
* Minyak Mentah (Crude Oil): Sekitar USD 4,5 miliar.
* Produk BBM Olahan: Sekitar USD 7 miliar.
Selain ketiga poin utama tersebut, kerja sama ini juga mencakup impor batubara metalurgi hingga pengembangan teknologi batubara bersih (clean coal technology).
Pemerintah memastikan seluruh komitmen ini tetap disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri serta mempertimbangkan harga yang paling kompetitif demi kepentingan nasional.













