banner 728x250

Bukan Kaleng-kaleng! Modal Kayu Jati, Furnitur Asal Jogja Ini Jadi Rebutan di Italia

Foto dok Kemenperin

ABNnews – Industri furnitur nasional membuktikan diri sebagai sektor “tahan banting” di tengah ketidakpastian global. Tak hanya sekadar menyumbang 0,92 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas, sektor padat karya ini mulai menunjukkan tajinya di pasar internasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, pemerintah terus menggenjot pembinaan Industri Kecil dan Menengah (IKM) agar produk lokal bisa bicara banyak di luar negeri.

“Kami terus berkolaborasi untuk mengawal pengembangan industri furnitur dalam negeri yang inovatif dan mampu menjawab kebutuhan pasar serta selera konsumen,” ujar Agus dalam keterangannya, Senin (16/2/2026).

Gebrakan IKM Bantul Tembus Eropa

Salah satu bukti nyata keberhasilan ini datang dari CV Kayu Manis, IKM furnitur asal Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Perusahaan yang spesialis mengolah kayu jati ini baru saja melepas ekspor enam kontainer produk furnitur ke berbagai negara di Eropa.

Negara tujuannya pun tak main-main, produk asli Jogja ini dikirim ke: Spanyol, Italia, Prancis serta Reunion (wilayah Prancis di Samudra Hindia)


Dirjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengaku bangga atas capaian ini.

“CV Kayu Manis adalah contoh sukses pelaku IKM yang bisa menjawab tantangan pasar global. Ini jadi inspirasi bagi IKM lainnya,” ungkap Reni.

Strategi ‘Lari’ dari Perang Tarif AS

Data Trademap menunjukkan ekspor furnitur RI mencapai USD 1,91 miliar pada 2024. Namun, tantangan muncul dari kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat. Mengingat 54,6 persen ekspor nasional lari ke AS, pemerintah kini mulai memutar otak.

Reni menyebut pihaknya tengah mendorong diversifikasi pasar ke negara-negara nontradisional seperti: Eropa Timur dan Timur Tengah, Amerika Latin, India dan Jepang


Resep Rahasia: Diskon Mesin dan Inovasi

Keberhasilan CV Kayu Manis yang kini memiliki pabrik seluas 10.000 meter persegi dengan kapasitas 120 kontainer per tahun bukan tanpa alasan. Perusahaan ini merupakan binaan Ditjen IKMA yang pernah mencicipi Program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan.

Program ini memberikan “diskon” pembelian mesin sebesar: 45% untuk mesin buatan dalam negeri, dan 25% untuk mesin impor.


Selain dukungan mesin, Direktur IKM Pangan, Furnitur dan Bahan Bangunan, Afrizal Haris, menyebut kunci sukses lainnya adalah produk knockdown (bongkar pasang) dengan kemasan ringkas (compact packaging).

“Inovasi produk yang disesuaikan tren pasar global inilah yang membuat produk kita efisien dalam transportasi tapi tetap fleksibel untuk ruang terbatas,” tutup Afrizal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *