banner 728x250

Industri Pengolahan Jadi ‘Raja’ Ekonomi RI, Sektor Kimia hingga Farmasi Tumbuh Moncer!

Ilustrasi. (Foto: Ist)

ABNnews – Sektor industri pengolahan kembali membuktikan tajinya sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor ini konsisten menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan pertumbuhan mencapai 5,30 persen pada tahun 2025.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, prestasi ini diraih berkat ketangguhan industri dalam negeri menghadapi dinamika ekonomi global yang tidak menentu.

“Berkat jerih payah sektor industri dalam negeri, industri pengolahan secara konsisten menjadi penyumbang terbesar dalam pertumbuhan ekonomi nasional dibanding sektor lainnya,” ujar Agus Gumiwang dalam keterangannya, Selasa (10/2/2026).

Sektor Kimia dan Farmasi Tumbuh 5,11 Persen

Salah satu motor penggerak utama adalah Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT). Sektor ini mencatatkan pertumbuhan 5,11 persen sepanjang 2025, melonjak dibanding tahun sebelumnya yang hanya 4,21 persen.

Sekretaris Direktorat Jenderal IKFT, Sri Bimo Pratomo, merinci beberapa subsektor yang menjadi jawara pertumbuhan:
* Industri Kimia & Farmasi: Tumbuh melesat 8,35 persen.

* Barang Galian Bukan Logam: Bangkit dengan pertumbuhan 6,16 persen (sebelumnya sempat kontraksi -0,6%).

* Investasi: Realisasi investasi sektor IKFT tembus Rp142,15 triliun (Januari-September 2025).


“Pertumbuhan IKFT yang sejalan dengan pertumbuhan nasional menunjukkan sektor ini tetap menjadi penopang penting pada industri pengolahan non-migas,” kata Sri Bimo.

Ekspor Meroket, Surplus USD 49,15 Miliar

Tak hanya jago di kandang, produk IKFT Indonesia juga laris manis di pasar internasional. Pada periode Januari-November 2025, sektor ini mencatatkan ekspor senilai USD 49,15 miliar, naik lebih dari USD 6 miliar dibanding tahun lalu.

Peningkatan signifikan terlihat pada:
1. Industri Kimia Berbasis Pertanian: Naik dari USD 6,25 miliar menjadi USD 9,25 miliar.

2. Industri Alas Kaki: Meningkat dari USD 2 miliar menjadi USD 3 miliar.


“Di tengah dinamika global, permintaan dunia terhadap produk IKFT dalam negeri justru meningkat. Ini mencerminkan daya tahan sektor kita dalam rantai pasok global,” tambah Sri Bimo.

Sinyal Positif di Awal 2026

Optimisme pelaku industri terpantau masih sangat tinggi di awal tahun 2026. Hal ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Januari 2026 yang berada di level 54,12 (Fase Ekspansi). Angka ini lebih tinggi dibanding Desember 2025 yang berada di level 51,90.

Kemenperin pun berkomitmen terus tancap gas lewat program prioritas, termasuk pendalaman struktur industri hulu dan hilir demi mempercepat substitusi impor dan meningkatkan nilai tambah produk lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *