ABNnews – Sektor industri pengolahan nasional sukses mengawali tahun 2026 dengan catatan gemilang. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Januari 2026 melesat ke level 54,12. Angka ini naik 2,22 poin dibanding Desember 2025, sekaligus menjadi rekor tertinggi sejak indeks ini diluncurkan pada November 2022.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, menyebut capaian ini merupakan sinyal kuat kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi di awal tahun.
“Capaian ini menandakan penguatan kepercayaan pelaku industri terhadap prospek usaha. Struktur IKI Januari 2026 menunjukkan perbaikan yang merata,” ujar Febri dalam rilis resmi di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Efek Ramadan dan Lebaran Mulai Terasa
Kemenperin mencatat dari 23 subsektor industri, sebanyak 20 di antaranya sudah berada di fase ekspansi. Menariknya, kenaikan ini dipicu oleh kesiapan pabrik-pabrik dalam menyambut lonjakan permintaan menjelang hari besar keagamaan.
“Kami menilai peningkatan IKI terjadi karena pelaku industri mulai mengintensifkan produksi untuk memenuhi permintaan menjelang bulan Ramadan, Hari Raya Idulfitri, dan hari raya lainnya,” jelas Febri.
Dua subsektor yang mencatatkan nilai tertinggi adalah Industri Kendaraan Bermotor (Otomotif) serta Industri Mesin dan Perlengkapan. Di sisi lain, variabel produksi juga melonjak ke level 54,86 setelah sempat ‘puasa’ ekspansi selama tujuh bulan berturut-turut.
Investasi dan Impor Barang Modal Melejit
Geliat industri ini juga didukung oleh kondisi makro yang stabil. Kebijakan Bank Indonesia yang menahan suku bunga BI-Rate di level 4,75% memberikan rasa aman bagi dunia usaha. Tak hanya itu, realisasi investasi industri pengolahan pada akhir 2025 tercatat mencapai Rp 218,2 triliun, alias menyumbang 43,9% dari total investasi nasional.
Kenaikan impor barang modal sebesar 17,27% juga menjadi indikasi bahwa banyak pabrik mulai menambah kapasitas produksi dan meremajakan mesin-mesin mereka.
Masih Ada PR di Sektor Ekspor
Meski secara umum kinclong, Febri mengakui masih ada beberapa sektor yang mengalami kontraksi atau kelesuan. Di antaranya adalah industri kulit dan alas kaki, kayu, serta elektronik.
“Kontraksi pada subsektor tersebut dipengaruhi oleh pelemahan permintaan ekspor, faktor musiman, serta dampak kondisi geopolitik global,” tuturnya.
Meski begitu, Kemenperin tetap optimistis. Sebanyak 78,5% pelaku usaha menyatakan kegiatan bisnis mereka stabil bahkan membaik. Tingkat optimisme pun kini berada di level 72,5%. Capaian IKI Januari 2026 ini diharapkan menjadi modal awal yang kuat agar industri nasional terus tumbuh “hijau” sepanjang tahun 2026.













