ABNnews — Angin segar berembus bagi ratusan ribu guru honorer di tanah air. Pemerintah resmi menyiapkan skema bantuan baru untuk mendongkrak kesejahteraan tenaga pendidik non-ASN yang selama ini masih berjuang dengan pendapatan minim.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengungkapkan pemerintah akan mengguyur insentif sebesar Rp 400.000 per bulan khusus untuk guru honorer. Menariknya, uang bantuan ini akan langsung masuk ke kantong para guru tanpa melalui perantara.
“Kalau gaji guru honorer itu kan tergantung dari masing-masing satuan pendidikan. Tapi dari pemerintah, kami memberikan insentif untuk guru honorer sebesar Rp 400.000 per bulan,” ujar Abdul Mu’ti di sela peresmian Gedung Hotel SMK Muhammadiyah Purwodadi, Purworejo, Sabtu (24/1/2026).
Transfer Langsung ke Rekening, Cek Syaratnya!
Mu’ti menegaskan bahwa sistem transfer langsung dipilih guna menjamin transparansi dan memastikan bantuan tepat sasaran. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa insentif ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang memenuhi kriteria tertentu yang telah ditetapkan pemerintah.
“Insentif ini ditransfer langsung ke rekening guru honorer yang memenuhi persyaratan,” jelasnya.
Langkah ini diambil sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi guru honorer yang selama ini menjadi ujung tombak pendidikan namun seringkali menerima upah jauh di bawah standar minimum daerah.
Bukan Cuma Uang, Ada Beasiswa S1 Hingga Pelatihan AI
Tak hanya fokus pada urusan “perut”, pemerintah juga tancap gas meningkatkan kompetensi guru. Pada tahun 2026 mendatang, ada program beasiswa besar-besaran bagi 150.000 guru untuk menempuh jenjang sarjana (S1).
Lewat sistem Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), para guru akan mendapatkan bantuan dana sebesar Rp 3 juta per semester. Selain itu, para guru akan dibekali keahlian masa depan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
“Pemerintah juga menyiapkan pelatihan Bahasa Inggris, serta pelatihan coding dan kecerdasan buatan (AI) bagi guru yang akan mengajar mata pelajaran tersebut,” tambah Mu’ti.
Menurutnya, kesejahteraan dan kompetensi harus berjalan beriringan. Dengan guru yang sejahtera dan punya skill mumpuni, kualitas pembelajaran bagi siswa pun diyakini akan meningkat pesat.













