ABNnews – Sektor industri manufaktur nasional diprediksi bakal menjadi ‘tulang punggung’ ekonomi Indonesia di tahun 2026. Meski dibayangi ketidakpastian ekonomi global, fondasi manufaktur RI diklaim tetap kokoh dan siap tancap gas.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengungkapkan rasa optimistisnya. Ia menargetkan industri pengolahan nonmigas mampu tumbuh di angka 5,51 persen tahun ini.
“Industri manufaktur tetap tumbuh di atas 5 persen dan berperan sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Kami optimistis kinerja ini dapat terus dijaga dan ditingkatkan sepanjang tahun 2026,” ujar Agus Gumiwang dalam keterangannya dikutip, Minggu (18/1/2026).
1.236 Perusahaan Baru Siap Produksi
Kemenperin mencatat bakal ada ledakan kapasitas produksi di tahun ini. Data per 15 Januari 2026 menunjukkan ada 1.236 perusahaan industri yang baru selesai dibangun dan siap beroperasi perdana di 2026.
Tak main-main, investasi yang masuk ke sektor industri pengolahan nonmigas ditargetkan mencapai angka fantastis, yakni Rp 852,90 triliun.
Berikut adalah dampaknya bagi ekonomi:
* Penyerapan Tenaga Kerja: Diperkirakan mencapai 218.892 orang.
* Target Ekspor: Produk industri diharapkan menyumbang 74,85 persen dari total ekspor nasional.
* Pasar Domestik: Menjadi penopang utama dengan porsi 80 persen.
Strategi Baru di Era Presiden Prabowo
Menperin juga memperkenalkan Strategi Baru Industri Nasional (SBIN). Strategi ini dirancang untuk menyelaraskan kebijakan industri dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Fokus utamanya adalah kemandirian pangan, swasembada energi, hingga penguatan industri pendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Strategi Baru Industri Nasional menjadi acuan untuk memperkuat struktur industri nasional sejalan dengan agenda besar Presiden Prabowo. Kita dorong industri dalam negeri agar mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan,” tegas Menperin.
Sektor Unggulan: Dari Infrastruktur hingga Obat-obatan
Beberapa subsektor diprediksi akan menjadi primadona di pasar domestik, antara lain:
1. Industri Logam Dasar: Melejit berkat proyek infrastruktur dan hilirisasi.
2. Makanan dan Minuman: Tetap jadi kontributor PDB terbesar karena besarnya jumlah penduduk.
3. Kimia & Farmasi: Tumbuh tinggi seiring meningkatnya kesadaran kesehatan masyarakat.
Pemerintah juga berkomitmen memastikan produk dalam negeri menjadi “tuan rumah” di negeri sendiri melalui penguatan TKDN dan pengendalian impor barang jadi yang selama ini membanjiri pasar.













