ABNnews – Langkah bersejarah diambil oleh dua BUMN raksasa, PT Pertamina (Persero) dan holding industri pertambangan MIND ID. Keduanya resmi berkolaborasi strategis untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional, sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Penandatanganan kerja sama ini dilakukan di Jakarta, Jumat (9/1), disaksikan Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara Sigit Puji Santoso.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengatakan, kolaborasi ini adalah tonggak sejarah bagi kedaulatan energi. Pertamina akan berperan sebagai offtaker dan agregator infrastruktur distribusi.
“Sebagai tulang punggung energi nasional, kami berkomitmen mengoptimalkan infrastruktur distribusi Pertamina untuk mendukung hilirisasi ini melalui kerja sama dengan MIND ID. Ini adalah langkah nyata dalam mengurangi ketergantungan pada impor LPG dan memastikan energi yang lebih terjangkau tersedia bagi rakyat, sejalan dengan target swasembada energi pemerintah,” ujar Simon di Jakarta, Sabtu (10/1).
Batu Bara Disulap Jadi Pengganti LPG
Kerja sama ini difokuskan pada percepatan hilirisasi batu bara menjadi produk energi alternatif pengganti LPG, seperti dimethyl ether (DME), synthetic natural gas (SNG), dan metanol.
Melalui teknologi proses gasifikasi, batu bara akan diubah menjadi SNG, yang kemudian diproses menjadi DME sebagai energi alternatif. Dengan jaringan distribusi yang dimiliki Pertamina, hasil hilirisasi ini dipastikan dapat tersalurkan efektif ke masyarakat dan industri.
Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menegaskan, kerja sama ini adalah bagian dari upaya memperkuat struktur industri nasional melalui pengembangan rantai nilai sumber daya domestik.
“MIND ID berkomitmen mendorong hilirisasi yang memberikan nilai tambah ekonomi, mengurangi ketergantungan impor, dan memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang,” katanya.
Jawab Defisit 8,6 Juta MT
Sinergi Pertamina-MIND ID menjadi solusi strategis mendesak. Kementerian ESDM memproyeksikan konsumsi LPG nasional mencapai 10 juta metrik ton (MT) pada 2026, sementara produksi domestik hanya mampu mencukupi 1,3-1,4 juta MT.
Kesenjangan defisit sebesar 8,6 juta MT inilah yang ditargetkan ditutup melalui pemanfaatan kekayaan alam domestik, yakni batu bara, untuk diubah menjadi DME (coal to DME) dan SNG (coal to SNG).
CTO BPI Danantara Sigit Puji Santoso menambahkan, hilirisasi berbasis teknologi ini adalah instrumen penting untuk membangun sistem energi yang lebih tangguh dan efisien di masa depan.













