ABNnews – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman benar-benar sedang bersih-bersih di kementeriannya. Di hadapan Presiden Prabowo Subianto pada acara pengumuman swasembada pangan di Cilebar, Karawang Timur, Rabu (7/1/2026), Amran mengaku telah mencopot 192 pegawai nakal dalam setahun terakhir.
“Dari dalam, kementerian-kementerian ada 193. Satu tahun kami, eh 192 pejabat kementerian kami copot, ada kami pecat, ada yang masuk penjara,” kata Amran.
Amran bahkan menyebut dirinya kadang dicap sebagai Menteri Pertanian yang kejam.
Cabut Izin 2.300 Distributor Pupuk dan Jual Nama Kapolri!
Sebab ‘kekejaman’ itu bukan tanpa alasan. Amran mengungkap telah mencabut izin 2.300 distributor pupuk karena ketahuan menjual pupuk subsidi di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), yang jelas merugikan petani.
“Kita cabut izinnya. Begitu naik harga dari HET, main-main kita langsung cabut izinnya,” ujar Amran.
Tidak hanya itu, hingga saat ini sudah ada 76 tersangka yang terjerat kasus pelanggaran tata kelola pertanian, baik dari sektor swasta maupun internal Kementan.
Secara terbuka, Amran bahkan meminta maaf kepada Jaksa Agung S.T. Burhanuddin dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo karena sering ‘menjual nama’ mereka di lapangan untuk menindak pelaku fraud di rantai distribusi.
“Tahu Pak, aku jual namanya Bapak sering di lapangan. Jadi aku minta maaf hari ini. Bahwa ini perintah Jaksa harus ditangkap. Sekarang tersangka 76,” kata Amran.
Copot 11 Pejabat Eselon I Setara Jenderal Bintang 3 Sehari!
Laporan paling mengejutkan yang disampaikan Amran kepada Prabowo adalah tindakan kerasnya di lingkungan Kementan sendiri.
Amran melaporkan pernah mencopot 11 pejabat Eselon I dalam waktu satu hari saja! Jika di lingkungan militer, pejabat Eselon I ini setara dengan Jenderal Bintang Tiga.
“Aku minta maaf. Eselon I pernah kami copot 8 satu hari. Pernah 11 satu hari. Kalau tentara itu ya bintang 3. Aku copot 11,” tuturnya.
Amran pun mewanti-wanti para pejabat Kementan: mereka harus memenuhi target yang ditetapkan Presiden. Jika tidak, konsekuensi menanti.
“Tidak capai target, you menjadi target. Target kamu adalah rakyat. Rakyat menunggu hasil kerja kita. Jadi kami teruskan saja perintah Bapak Presiden,” tegas Amran.













