banner 728x250

Warga Jakarta Diimbau Waspada DBD saat Musim Pancaroba

Foto: Antara News

RABNNews -Masyarakat Jakarta diimbau untuk mewaspadai penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada masa pancaroba.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno saat mengunjungi Kantor Pemerintah Kota Jakarta Barat, mengatakan “Ini menjadi warning (peringatan) bagi kita semua. Biasa itu, pancaroba setelah musim hujan, akan muncul DBD. Saya ingatkan saja, penting untuk menerapkan 3M. Itu jangan sampai kita lupa,” Ujarnya dikutip dari Antara pada Senin (5/1/2026).

Pria yang biasa disapa Bang Doel itu meminta warga agar menerapkan “3M (menguras, menutup dan mengubur)” sebagai upaya antisipasi penyakit tersebut.

Dia pun meminta agar Kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) bergerak lebih optimal untuk menyidak kebiasaan masyarakat yang berpotensi meningkatkan kasus DBD.

“Kita kan sudah punya Tim Jumantik, dan itu harus lebih dioptimalkan lagi,” kata Rano.

Langkah Pencegahan DBD

Sementara itu, Praktisi Kesehatan Masyarakat Dokter Ngabila Salama menyarankan agar masyarakat rajin membersihkan rumahnya dari jentik, debu atau kotoran, agar tidak terjangkit penyakit rutin musim pancaroba, salah satunya DBD.

“Kalau kita tidak rajin bersih-bersih lingkungan, rumah, dan juga tentunya kalau demam berdarah tidak PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk), 3M+, terus juga kita membuat perindukan nyamuk maupun jentik, ya, otomatis itu juga akan membuat menjadi lebih mudah virus demam berdarah melalui perantaraan nyamuk Aedes Aegypti,” tutur Ngabila.

Menurut dia, nyamuk penyebab demam berdarah lebih mudah menjangkiti masyarakat pada musim pancaroba.

“Pada musim itu, ada banyak tempat yang jadi lahan jentik nyamuk Aedes Aegypti berkembang biak, seperti di ember-ember atau kaleng-kaleng bekas,” terang Ngabila

Kalau terkait demam berdarah, ada yang namanya Gerakan Satu Rumah, Satu Kader Jumantik. Jadi, silakan di rumah ditunjuk, apakah ibu, apakah bapak, apakah anak, apakah asisten rumah tangga, itu dijadikan satu orang Kader Jumantik,” pungkas Ngabila.

Lebih lanjut, dia menjelaskan pada pukul 10.00 WIB, pemantauan jentik dapat dilakukan selama 10 menit saja, namun pemantauan itu dilakukan selama 10 minggu.

“Jadi, setiap Jumat pagi, kita lakukan dengan 3×10, yaitu 10 pertama adalah pukul 10 pagi, saat nyamuknya aktif, pukul 8-10 pagi atau pukul 3-5 sore,” imbuh Ngabila.

Nadzar Lendi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *