ABNnews – PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI) mengambil langkah strategis dengan menggandeng Balai Besar Survei dan Pengujian Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (BBSP KEBTKE) Kementerian ESDM. Kerjasama ini bertujuan memperkuat pengembangan bioenergi sebagai instrumen kunci untuk menekan emisi karbon.
Kerja sama yang ditandatangani melalui nota kesepahaman ini akan difokuskan pada pengujian, standardisasi, hingga penyusunan kajian teknis bioenergi. Hal ini sangat vital untuk mendukung target transisi energi, ketahanan energi nasional, dan pencapaian target Net Zero Emission (NZE).
Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto menegaskan, bioenergi memiliki peran strategis karena menjadi satu-satunya sumber energi terbarukan yang secara langsung menurunkan emisi karbon pada sistem pembangkit eksisting.
“Dalam kerangka net zero emission, bioenergi menjadi kunci karena tidak sekadar mengganti kapasitas, tetapi benar-benar menekan emisi karbon pada sistem yang sudah berjalan. Ini penting untuk memastikan transisi energi tetap realistis dan berkelanjutan,” ujar Rakhmad, Kamis (1/1/2026).
Bioenergi: Kunci Menuju Karbon Negatif
Kepala BBSP KEBTKE Trois Dilisusendi sepakat bahwa bioenergi adalah jawaban penting dalam agenda transisi energi. Saat ini, kontribusi bioenergi sudah menyumbang lebih dari separuh porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional.
“Bioenergi itu lengkap. Ketika kita bicara gas ada biogas, bicara batubara ada biomassa, bicara BBM ada biofuel. Bahkan bioenergi tidak hanya net zero, tapi berpotensi menuju karbon negatif,” kata Trois.
BBSP KEBTKE siap mendukung melalui fasilitas pengujian mumpuni, kajian pra- feasibility study (pra-FS), dan pengembangan standar mutu yang ketat.
Kualitas Biomassa Jadi Tantangan Berat
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menambahkan, kerja sama ini sangat mendesak karena kebutuhan teknis di lapangan sudah jelas. Saat ini, PLN EPI mengelola pasokan bioenergi lebih dari dua juta ton per tahun dengan ratusan mitra, namun masih menghadapi tantangan besar dari sisi kualitas.
“Kualitas terus membaik dari tahun ke tahun, tapi itu belum cukup. Kami butuh pengujian yang kredibel dan independen sejak awal agar standar bisa dijaga konsisten,” ujar Hokkop.
PLN EPI menargetkan pengembangan hingga 22 fasilitas produksi bioenergi hingga tahun 2030, sehingga standardisasi mutu menjadi prioritas utama.













