ABNnews — Sebanyak 15 Warga Negara Asing (WNA) asal China mengamuk. Mereka diduga melakukan penyerangan di kawasan pertambangan emas milik PT Sultan Rafli Mandiri (PT SRM) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Peristiwa ini terjadi pada Minggu (14/12) sekitar pukul 15.40 WIB. Akibatnya lima anggota TNI diserang dan dua kendaraan perusahaan mengalami kerusakan berat.
Para pelaku berbekal senjata tajam (sajam) dan airsoft gun dalam aksinya tersebut. Kapolsek Tumbang Titi, Iptu Made Adyana membenarkan peristiwa tersebut, namun saat ini situasi sudah kondusif. “Sampai dengan saat ini situasi kondusif,” katanya, dikutip pada Selasa (16/12).
Iptu Made mengatakan pihak perusahaan sejauh ini belum membuat laporan kepolisian perusakan dan penyerangan belasan WN China itu. “Belum (buat laporan),” katanya.
Terkait laporan, Made seperti dilansir dari cnnindonesia.com, menyebutkan PT SRM terkonfirmasi masih berkoordinasi tim pengacara untuk proses selanjutnya.
Kronologi Kejadian
Chief Security PT SRM, Imran Kurniawan, menjelaskan penyerangan terjadi di Desa Pemuatan Batu, Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang, pada Minggu kemarin, sekitar pukul 15.40 WIB.
Kronologi kejadiannya bermula pada pukul 15.30 WIB, anggota pengamanan sipil PT SRM sedang melaksanakan tugas jaga. Terlihat aktivitas penerbangan moda nirawak atau drone di sekitar area PT SRM.
Kemudian, pada pukul 15.40 WIB, sekitar 300 meter dari pintu PT SRM, anggota pengamanan perusahaan bersama anggota TNI langsung menemui empat WN China yang menerbangkan drone.
“Saat anggota pengamanan kami dan anggota TNI turun dari kendaraan, tiba-tiba datang sebelas WN China lainnya. Mereka membawa empat bilah senjata tajam dan air softgun, serta alat setrum,” kata Imran.
Imran menjelaskan soal keberadaan anggota TNI turut dalam tim pengamanan perusahaan mendekati WN China yang menerbangkan drone.
Dia bilang lima anggota TNI dari Batalyon Zeni Tempur 6/Satya Digdaya (Yonzipur 6/SD) Anjungan yang ada di lokasi. Dan pada saat itu, mereka akhirnya ikut melakukan pengejaran terhadap WN China yang menjadi pilot drone.
“Saat anggota pengamanan kami mengejar pilot drone, lima anggota Yonzipur 6/SD yang ada di lokasi kejadian karena mereka sedang dalam kegiatan LDS (latihan dasar satuan) di PT SRM. Jadi total ada enam yang mengejar pilot drone,” beber Imran.
Kemudian, pada pukul 15.40 WIB, sekitar 300 meter dari pintu PT SRM, anggota pengamanan langsung menemui empat WN China yang menerbangkan drone.
“Saat anggota pengamanan kami dan anggota TNI turun dari kendaraan, tiba-tiba datang sebelas WN China lainnya. Mereka membawa empat bilah sajam dan airsoft gun, serta alat setrum,” kata Imran.
Para WN China ini, kata Imran, langsung melakukan penyerangan terhadap enam anggota menggunakan senjata tajam. Sebab kalah jumlah dan menghindari benturan, anggota yang melakukan pengejaran langsung berlari menuju area perusahaan.
“Yang jelas, kejadian ini terjadi setelah pihak kami mengejar pilot atau orang yang menerbangkan drone. Motif menerbangkan drone atau penyerangan belum diketahui,” ujar Imran.
Ia juga mengungkap, kendaraan properti perusahaan tambang emas itu rusak akibat keributan terkait belasan WN China itu. Dia bilang kendaraan properti perusahaannya dirusak belasan WN China itu. “Dalam aksi penyerangan ini, satu mobil dan sepeda motor perusahaan kami dirusak oleh WN China,” katanya.
Akibat kejadian ini, pihak perusahaan mengalami kerugian berupa kerusakan berat pada mobil dan sepeda motor milik PT SRM. “Anggota pengamanan kami sudah mengamankan satu sajam sebagai barang bukti. Kami pun sudah menghubungi pihak Polsek Tumbang Titi. Sudah ada anggota polsek yang datang untuk mendalami kejadian,” ujar dia.
Imigrasi Cek Legalitas WN China
Teranyar, ke-15 WN China tersebut kini sudah diamankan oleh pihak Imigrasi Kelas II Non TPI Ketapang. Seperti dikutip dari detikcom, legalitas ke-15 WN China itu kini tengah diperiksa.
“Benar, sudah dibawa ke Kantor Imigrasi Ketapang,” kata Kepala Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian (Kasi Tikim) Kantor Imigrasi Ketapang, Ida Bagus Putu Widia Kusuma, Selasa (16/12).
“Terkait proses keimigrasian, sedang kami lakukan pemeriksaan. Apakah ada pelanggaran atau tidak, ini masih diperiksa,” sambung Ida Bagus.













