banner 728x250
Opini  

Sastra Tapi Fakta

Catatan Cak AT

Selamat, Bung Denny. Betapa eloknya menatap seorang penyair sekaligus petarung opini publik akhirnya disalami panggung internasional. BRICS Literature Award —penghargaan yang namanya saja sudah seperti judul simposium sastra geopolitik— jatuh ke pangkuan Denny JA.

Dengan kekayaan triliunan, Denny lebih bangga menjadi seorang penggerak genre puisi esai ketimbang disebut pengusaha, dan di situ dia beroleh pengakuan lagi selevel dunia. Sudah banyak penghargaan dan pengakuan diraihnya, tapi kali ini membawanya ke negeri Alexander Pushkin, Rusia.

Kiprahnya di kesenian membuat seakan dunia sastra yang selama ini berputar bak kipas langit Manhattan dan Paris harus menunduk sebentar, memberi ruang anggukan untuk suara-suara dari Selatan: dari Jakarta sampai Johannesburg, dari Rio hingga Moskow.

Ketika puisi esai dimunculkan pada 2012, skeptikus mengernyit. Puisi kok pakai data, riset, dan laporan sosial? Bukankah puisi seharusnya ngawang-ngawang dan abstrak seperti asap kemenyan spiritualisme modern? Namun sejarah terbukti punya selera humor sendiri.

Genre yang dulu dianggap eksperimen kecil di ruang kerja seorang aktivis kampus, tumbuh menjadi gerakan literasi lintas negara. Ia dibahas di ruang akademik, diselenggarakan dalam festival regional, dan kini —diabadikan dengan dana abadi dan di kancah internasional.

BRICS Award sendiri bukan sembarang medali berbingkai emas. Ini buah dari dinamika geopolitik baru yang perlahan menggeser arah pencahayaan dunia budaya dari sumbu Euro-Amerika ke poros Global South. Rusia pun menata dan mendirikan panggung-panggungnya.

Denny mungkin sudah terbang ke Rusia, tempat dilaksanakannya serangkaian pentas budaya: BRICS International Award, BRICS Urban Innovation Award, lalu terakhir BRICS Literature Award yang shortlist-nya diumumkan di Rusia sebelum puncak penyerahan di Khabarovsk.

Ada pula penghargaan ilmu pengetahuan “For Fidelity to Science.” Ini semua menegaskan, penghormatan terhadap budaya bukan monopoli satu benua. BRICS hadir seperti orkestra besar, membunyikan simfoni kontra-hegemonik: bahwa suara sastra Asia, Afrika, Amerika Latin tidak lagi sekadar catatan kaki dalam kamus peradaban.

Maka ketika Denny JA menerima surat resmi bermeterai Festival Seni Internasional BRICS dari Ostroverkh–Kvanchiani Aleksandr Igorevich, aroma sejarah itu menguar.

Puisi esai yang dibesarkan Denny sekalis membesarkannya bukan sekadar inovasi estetika. Ia lahir dari kegelisahan sosial yang faktual. Ia memadukan lirisisme, alur naratif, dan detak jantung data.

Karya-karya puisi essai, kini ribuan jumlahnya, yang lahir dari tangan-tangan gerbong Denny, merangkum tragedi dan harapan, melibatkan dokumentasi seperti reportase namun tetap menari dalam keindahan metafora.

Genre yang semula dipertanyakan justru menjelma menjadi gerakan yang melahirkan festival, komunitas lintas generasi, hingga ASEAN Poetry Essay Festival di Malaysia. Berpuluh penulis lahir, memikul tonggak sejarah bahwa puisi juga dapat menjadi dokumen sosiologi kebudayaan.

Dan kini, sebuah panggung di Khabarovsk berdiri. Festivalnya bukan main: pameran seni multidisipliner, kelas sinematografi, pertunjukan reenactment sejarah, dan film raksasa yang akan dirilis tahun depan.

Seolah seluruh dunia kebudayaan berkumpul untuk berkata: cukup sudah dominasi single narrative dari Barat. Ini saatnya suara alternatif berbicara. Ini saatnya Indonesia tidak lagi bertepuk dalam senyap.

BRICS mewakili 45 persen populasi bumi, hampir separuh warga dunia. Dan mereka memutuskan, salah satu inovasi sastra yang lahir dari Indonesia layak berdiri sejajar dalam peta global.

Namun justru di titik inilah puisi esai menemukan ironi terindahnya. Ia berawal dari pertanyaan: bisakah puisi menjadi indah sekaligus faktual, menyuarakan luka sosial tanpa kehilangan estetika?

Jawaban itu kini bertumbuh dalam bentuk dana abadi, ekosistem literasi, dan forum yang melampaui batas negara. Dari sebuah langkah sunyi Denny JA, dunia menyimak.

Dari eksperimen kecil, lahir pengakuan besar. Award yang diterima Denny sejatinya juga buat gerbongnya. Para juri internasional, forum budaya BRICS, bahkan rivalitas kultural geopolitik pun ikut menyimak.

Tetapi penghargaan, seperti kata sang penerima, akan pudar oleh waktu. Yang abadi adalah sesuatu yang tak dapat diawetkan oleh tropi: kejujuran karya, keberanian bertanya, dan keteguhan mengolah luka menjadi sejarah.

Dari tragedi, lahir kebijaksanaan. Dari gerakan kecil, tumbuh percabangan besar. Dari inovasi sastra, tercipta ruang refleksi kolektif: bahwa sastra bukan lagi sekadar hiburan, melainkan cermin dunia, saksi zaman, dan pintu harapan bagi suara yang lama terabaikan.

Dan pada akhirnya, bukankah penghargaan sesungguhnya tak terletak pada panggung internasional, melainkan pada keberhasilan sastra menyentuh hati, menyembuhkan luka, dan mengingatkan kita bahwa kata tidak pernah mati?

Cak AT – Ahmadie Thaha
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 29/11/2025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *