banner 728x250

Tolak BBM Mahal! PLN EPI Ambil Keputusan Brilian, Siap Bangun LNG Midstream di 18 Titik Kritis

PLN EPI terus memperkuat ketahanan pasokan energi primer nasional melalui optimalisasi Coal Blending Facility (CBF) di Cilegon bekerjasama dengan Krakatau Bandar Samudra (KBS). Hal ini disampaikan Tumindang Sinurat, Assistant Senior Vice President Pengembangan Usaha Batubara PLN EPI di_Knowledge Hub Electricity Connect_ 2025 yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC).

ABNnews – PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) tancap gas mempercepat pengembangan proyek LNG midstream demi menjaga keandalan suplai energi primer sekaligus menekan biaya pokok penyediaan listrik (BPP). Langkah ini dinilai penting karena kebutuhan listrik nasional terus meningkat, sementara pasokan gas pipa ke sejumlah wilayah makin menurun.

Informasi ini disampaikan dalam ajang Knowledge Hub Electricity Connect 2025 yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC). General Manager Unit Proyek (UP) GBM PLN EPI, Agus Purnomo, menyebut PLN EPI kini memegang peran strategis dalam pemenuhan feedstock pembangkit PLN, mulai dari LNG, gas, BBM, batu bara, hingga bioenergi termasuk biogas.

“Kebutuhan listrik terus naik sesuai RUPTL, jadi PLN EPI harus memastikan feedstock aman dan siap mendukung pembangkit,” kata Agus di lokasi.

Agus menjelaskan proyeksi kebutuhan listrik nasional pada 2034 mencapai 511 TWh, dengan mayoritas konsumsi masih berasal dari Pulau Jawa. Namun pertumbuhan terbesar diprediksi bergeser ke Kalimantan dan Sulawesi. Di sisi lain, konsumsi BBM untuk pembangkit naik 10–15% sejak 2023 akibat pasokan gas pipa yang terus menurun.

“Kenaikan BBM ini membebani BPP. Jadi konversi BBM ke gas bukan lagi pilihan, tapi keharusan,” tegasnya.

Tahun ini, PLN EPI mencatat kebutuhan LNG sekitar 90 kargo, dan akan meningkat menjadi 104 kargo pada 2026. Karena pembangkit berbahan bakar batu bara tidak dapat meningkat kapasitasnya, kebutuhan energi tambahan akan bergeser ke LNG.

“Kami sedang mengembangkan infrastruktur LNG midstream supaya suplai lebih fleksibel dan efisien. Demand dan supply harus terintegrasi,” jelas Agus.

Model ini memungkinkan pola multi-destination, di mana suplai LNG bisa dialihkan dengan cepat jika ada pembangkit yang membutuhkan atau mengalami gangguan.

Proyek LNG midstream ini berjalan dalam dua fase. Pada fase pertama, fasilitas suplai dibangun di Nias, 6 titik di Sulawesi–Maluku, 8 titik di Nusa Tenggara dan 4 titik di Papua Utara.


Proyek LNG di Nias disebut memasuki tahap akhir konstruksi dan ditargetkan commissioning akhir November atau awal Desember 2025, sebelum beroperasi penuh Januari 2026.

“Kalau klaster pertama beroperasi, pemakaian BBM bisa ditekan dan logistik lebih hemat hingga 2,3 juta kilometer per tahun,” ungkap Agus.

Selanjutnya, pembangunan akan masuk fase kedua ke wilayah yang masih bergantung penuh pada BBM, seperti Halmahera Timur, Sanana, Morotai, Sofifi, Bangka Belitung, dan beberapa titik di Kalimantan.

PLN EPI juga mempercepat proyek penguatan suplai gas di wilayah Jawa-Madura-Bali, karena pasokan gas pipa dari Sumatera dan Jawa Timur diprediksi makin ketat.

Sejumlah fasilitas regasifikasi terapung (FSRU) baru sudah disiapkan, di antaranya FSRU Jawa Barat 2 (Muara Tawar), FSRU Bali, FSRU Cilegon, FSRU Kalbar, FSRU Kalselteng, FSRU Pomala dan FSRU Stargate.


“FSRU di Jawa Timur akan jadi penopang jaringan transmisi gas untuk mendukung pembangkit CCCT Jawa–Bali 3,” kata Agus.

Agus menegaskan seluruh proyek ini hanya bisa berhasil jika ada dukungan semua pihak.

“Konversi BBM ke gas bukan cuma efisiensi dan menekan BPP, tapi juga mempercepat pemanfaatan energi bersih,” ujarnya.

“Kami tidak bisa berjalan sendiri. PLN EPI mengajak seluruh partner berkolaborasi untuk memastikan suplai energi primer tetap andal, baik di Jawa maupun luar Jawa. Bersama-sama, kita wujudkan ketahanan energi yang efisien, bersih, dan andal,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *