banner 728x250
Hikmah  

Sakaratul Maut (1)

ABNnews – Kematian adalah suatu hal yang pasti bagi setiap manusia. Kematian itu memaksa, mengejar siapapun, tidak dapat ditunda atau dipercepat, tidak dapat dihindari dan datangnya tiba-tiba.

“Perbanyaklah kalian dalam mengingat penghancur segala kelezatan dunia, yaitu kematian,” (HR atTirmidzi).

Sebelum kematian itu, manusia akan mengalami sakaratul maut, yaitu proses terpisahnya ruh dari jasad, yang digambarkan rasanya sangat sakit dan nyeri teramat sangat.

Dalam ajaran Islam, ini adalah sebuah kepastian bagi semua orang dan menurut Al-Qur’an (QS. Qaf: 19) adalah momen yang sangat ditakuti. Proses ini dipenuhi penderitaan fisik dan jiwa yang mendalam.

Menurut Imam Al-Ghazali, rasa sakit saat sakaratul maut menyerang inti jiwa dan menjalar ke seluruh bagian tubuh, terasa seperti tubuh ditarik dari setiap urat, saraf, rambut, dan kulit hingga kaki.

Dilansir dari NU Online, beratnya kematian juga tergambar dari perbincangan singkat antara Sayyidina Umar bin Khattab dengan Ka‘b. Pria yang tengah menjabat sebagai khalifah kedua itu bertanya, “Wahai Ka‘b, sampaikanlah kepadaku tentang maut.”

Ia menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, maut itu bagaikan sebuah pohon yang banyak durinya dimasukkan ke dalam perut ibnu Adam. Setiap duri memegang satu urat darinya. Kemudian ditarik sekaligus oleh seorang laki-laki yang sangat kuat. Maka terputuslah semua urat yang menyangkut pada duri. Tertinggallah urat-urat yang tersisa.”

Kemudian, saat menghadapi sakaratul maut ‘Amr ibn Al-‘Ash pernah ditanya oleh putranya tentang gambaran kematian. Ia menjawab, “Demi Allah, dua sisi tubuhku seakan-akan berada dalam himpitan. Napasku seakan-akan keluar dari lubang jarum. Dan sebuah dahan berduri ditarik sekaligus dari ujung telapak kaki hingga ujung kepalaku.”

Ahli Maksiat

Dilansir dari sejumlah sumber, banyak ayat dan hadits yang menggambarkan betapa beratnya sakaratul maut, terutama yang dialami oleh hamba-hamba zalim dan ahli maksiat.

Di antaranya adalah ayat: Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang zalim berada dalam tekanan sakaratul maut, sedangkan para malaikat memukuli dengan tangannya (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.”

Di hari ini manusia dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya (QS Al-An‘am [6]: 93).

Menurut Al-Qurthubi, bagi mereka beratnya kematian memiliki dua keuntungan. Keuntungan pertama adalah menyempurnakan keutamaan mereka dan mengangkat derajat mereka. Dan beratnya kematian mereka bukan berarti sebuah kekurangan atau celaan. Sebab, manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang di bawah mereka.

Keuntungan kedua adalah memberi tahu makhluk atau umat akan beratnya kematian. Mereka mungkin mengira bahwa kematian itu ringan. Wallohu a’lambishshawab/H Ali Akbar Soleman Batubara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *